spot_img
Rabu, Mei 27, 2026
More

    Sinema Eksploitasi Orde Baru: Menguak Perspektif Baru untuk Pendidikan Film

    Dalam upaya memperluas wacana
    akademik dan kebudayaan di lingkungan kampus, BINUS kembali menyelenggarakan
    BINUS Book Review dengan mengangkat salah satu karya terbaru dari akademisi dan
    kritikus film terkemuka, Ekky Imanjaya, SS., MHum., MA., Ph.D. Acara ini
    mengulas buku berjudul “The Real Guilty Pleasures: Menimbangulang Sinema
    Eksploitasi Transnasional Orde Baru”, yang berlangsung pada 29 Juli 2025 di
    BINUS @Kemanggisan Kampus Anggrek, dan diselenggarakan secara hybrid.

    Kegiatan ini merupakan kolaborasi
    antara BINUS Library & Knowledge Center, Knowledge Management Innovation, BINUS
    Media & Publishing, serta BINUS Press, yang secara konsisten menghadirkan
    diskusi-diskusi penting untuk memperkuat budaya literasi kritis di lingkungan
    akademik. Dalam sesi ini, para peserta diajak untuk menelusuri ulang sejarah
    perfilman Indonesia dari sudut pandang yang jarang dibahas secara terbuka, yaitu
    sinema eksploitasi yang berkembang pada masa Orde Baru dan bagaimana sinema
    tersebut berjejaring secara transnasional.

    Dalam sambutan pembuka, Dr. Karto
    Iskandar, S.Kom., M.M. selaku IS Development Manager at BINUS University,
    menekankan pentingnya melihat sinema tidak hanya sebagai hiburan, tetapi
    sebagai dokumen social politik yang merekam kompleksitas zamannya. Ia
    menyampaikan bahwa melalui kegiatan ini, mahasiswa dan sivitas akademika dapat
    memahami bagaimana film bisa menjadi medium kekuasaan, perlawanan, sekaligus
    produk budaya global.

    Pada sesi bedah buku, Dr. Ekky
    Imanjaya membedah gagasannya dengan penuh semangat. Ia menjelaskan bahwa
    film-film eksploitasi yang kerap dipandang sebelah mata sesungguhnya menyimpan
    banyak lapisan makna dan potensi kritik, terutama dalam konteks politik budaya
    Orde Baru dan keterhubungannya dengan pasar internasional. “Melalui buku ini,
    saya ingin menunjukkan bahwa sinema eksploitasi bukan hanya soal estetika yang
    vulgar atau narasi yang sensasional, tetapi juga bagaimana Indonesia dilihat
    dan melihat dirinya sendiri dalam lanskap global,” ujar Ekky.

    Buku ini membahas film-film
    Indonesia era 1970–1990-an yang sering kali diproduksi dengan gaya eksotik dan
    eksploratif untuk memenuhi selera pasar luar negeri. Dalam penjelasannya, Bapak
    Ekky menyoroti bagaimana sinema seperti ini justru membuka ruang untuk memahami
    politik representasi, ekonomi budaya, dan negosiasi identitas nasional di bawah
    rezim otoriter.

    Acara ini tidak hanya menjadi ajang
    perkenalan buku, tetapi juga sebagai pemantik diskusi akademik lintas disiplin
    mengenai sejarah kebudayaan visual Indonesia. Melalui pendekatan
    interdisipliner yang diusung Bapak Ekky Imanjaya, buku ini diharapkan menjadi
    referensi penting bagi peneliti, mahasiswa, dan sineas dalam membaca ulang
    sejarah film nasional dari sudut pandang yang lebih kompleks dan jujur.

    Dengan penyelenggaraan kegiatan
    ini, BINUS berkomitmen mendukung pengembangan kajian budaya dan seni di
    Indonesia. Upaya seperti ini menjadi bagian dari misi universitas untuk terus
    menumbuhkan ruang dialog kritis yang inklusif dan reflektif, serta membina dan
    memberdayakan masyarakat melalui pembangunan pengetahuan yang menguatkan.

    Berita Lainnya

    spot_img

    Related Stories