CIAYUMAJAKUNING.ID – Terasering tanaman padi berundak membentuk garis lengkung beraturan. Sedikit melingkar elips dan terlihat bergelombang itu bisa disaksikan oleh siapapun di sebuah tempat di kaki gunung Ciremai.
Sebagian menyebut wisata ini sebagai Ubud-nya Majalengka. Undakan gelombang garis-garis tanaman padi yang memanjakan mata itu seperti di Ubud Bali.
Undakan tanaman padi itu sangat teratur, seperti barisan pasukan tentara yang dipimpin sang jenderal. Tak mengherankan, jika pada hari Sabtu dan Minggu maupun libur hari besar banyak muda mudi serta pengunjung dari wilayah Ciayumajakuning berkunjung ke tempat ini. Bahkan, wisatawan dari Bandung dan Jakarta pun pernah singgah di sini. Termasuk turis asing.
Nama desa ini Bantaragung Kabupaten Majalengka. Spot lukisan alam yang menyejukkan mata dan memunculkan inspirasi ini ada di hampir setiap sudut. Ada Curug Cipeuteuy, Ciboer, juga Teras Pakuwon yang setiap sebulan sekali ada kuliner lokal dan hasil bumi para petani dijajakan di Pasar Bumi Pakuwon.
Sejumlah petani Desa Bantaragung tampak sedang memasukkan gabah padi yang baru saja dipanen. Gabah-gabah tersebut siap diangkut untuk dikeringkan terlebih dahulu.
Selanjutnya akan masuk ke mesin RMU (Rice Milling Unit atau mesin penggilingan padi generasi baru yang berfungsi mengubah gabah menjadi beras dalam satu kali proses secara otomatis) yang difasilitasi oeh Bank Indonesia.
“Sekarang ini musim panen. Alhamdulillah panen saat ini bagus. Pare di dieu mah alami, organik , teu make pupuk kimia (Padi d sini alami, organik, tanpa pakai pupupk kimia) jadi lebih sehat, ” ujar petani setempat Tajudin.
Menurutnya, para petani di Bantaragung memilihi bertani padi organik bukan pilihan yang tanpa alasan. Selain memiliki dampak positif, hasil beras organik berdampak pada perputaran ekonomi petani hingga desa yang lebih baik.
Ia menyebutkan, pilihan pertani memilih bertani organik dapat mengubah wajah pertanian desa lebih berkelanjutan dan stabil dalam menghasilkan beras tanpa harus bergantung pada pupuk atau pestisida dengan bahan kimia yang harganya fluktuatif.
Tajudin mengaku bersyukur ditengah maraknya lahan yang beralih fungsi, Bantaragung masih konsisten memanfaatkan lahannya untuk pertanian dan kesejahteraan masyarakat.
“Setahun kami mampu panen tiga kali beras organik dengan hasil yang konsisten,” ujarnya.
Sementara itu, saung Teras Pakuwon yang dibangun Bank Indonesia Cirebon menjadi perputaran uang harian warga. Warung bernuansa eksotik, berdinding kayu itu menyediakan makanan dan minuman.
Setiap hari didatangi petani yang sedang menggarap sawah di bawahnya.
“Jika lupa bawa kopi, kami para petani belanja ke warung Teras Pakuwon, ” ujar Tajudin.
Sebelum ada saung, para petani cukup jauh jika ingin sekedar membeli kopi atau cemilan di tengah aktivitasnya bertani. Setelah ada warung yang melekat di Teras Pakuwon, para petani bisa memanfaatkan bagian lantai dua Teras untuk selonjoran melepas rasa lelah hingga bisa melaksanakan ibadah solat.
“Setelah ada saung ini, kami bisa beristirahat, makan siang dan solat. Nyaman sekali karena terlindung dari hujan dan panas terik matahari, ” ucap petani setempat.
Warung Teras Pakuwon juga jadi tempat nongkrong anak-anak muda setiap harinya. Tongkrongan akan penuh saat sore menuju petang. Mereka menikmati fenomena alam matahari terbenam tanpa ada halangan, seperti menyaksikan Sunset di negeri dongeng.
“Setiap sore hari, kalo cuaca cerah, banyak anak muda menyaksikan Sunset di sini, ” ujar pengelola Pasar Pakuwon, Wawan Hermawan.
Hamparan padi yang indah tersebut juga dilestarikan secara organik oleh para petani lokal. Inilah yang membuat Bank Indonesia melirik potensi pangan yang berkelanjutan.
Organik, mengusung konsep ketahanan pangan yang sehat untuk generasi emas anak cucu Indonesia. Sejak tahun 2021 akhir, Bank Indonesia tak lelah memotivasi dan memonitor agar para petani Bantaragung agar tetap melestarikan gaya menanam padi yang tanpa menggunakan pestisida dan pupuk kimia.
Terlebih, air yang mengalir di setiap hamparan sawah Bantaragung tersebut masih asri dan belum tercemar sampah seperti sabun atau limbah pabrik industri.
Hasilnya, saat ini, produksi pertanian padi organik di Desa Bantaragung Kecamatan Sindangwangi Kabupaten Majalengka Jawa Barat telah menghasilkan delapan ton beras setahun, dengan rincian laporan 2 ton per-triwulan.
Untuk sampai ke Bantaragung, tepatnya ke Ciboer dan Pasar Bumi Pakuwon relatif mudah. Rute bisa ditempuh dari dua arah.
Bagi pengunjung yang dari arah Cirebon, maka rute yang diambil yakni belok kiri dari jalan raya Majalengka-Sumber (Kabupaten Cirebon) ke arah Kantor Kecamatan Sindangwangi terus menanjak mengikuti petunjuk arah sampai ke Bantaragung.
Rute kedua, bisa pula dari arah Rajagaluh terus menanjak ke arah desa Sindangpano dan Payung. Di perempatan Desa Payung, ambillah belok kiri menuju Curug Cipeuteuy Bantaragung. Di pertigaan plang Cipeuteuy ada banyak petunjuk untuk sampai ke area Ciboer dan Teras Pakuwon.
Akses jalannya sebagian besar bagus teraspal hotmix, hanya ada sebagian titik saja yang belum ada perbaikan. Di sepanjang jalan, pengunjung sudah diduguhi pemandangan terassering padi yang menakjubkan. Serta ada banyak pohon durian di hampir setiap halaman rumah milik warga Bantaragung.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Majalengka, Gatot Sulaeman mengatakan luas lahan pertanian Majalengka tercatat 30.996,42 hektare. Sementara jika melihat luas lahan sawah tadah hujan khusus wilayah Kecamatan Sindangwangi saja tercatat 582 hektare.
Tahun 2024 lalu produksi gabah Padi mencapai 160 ribu ton. Bupati Majalengka H. Eman Suherman yang datang ke acara festival bumi Pakuwon, mengatakan, dengan terpeliharanya kultur dan budaya menanam padi organik yang diterapkan di Desa Bantaragung Kecamatan Sindangwangi ini, sangat bagus untuk keberlangsungan pangan, juga menyehatkan sekaligus menjaga ekosistem dan kearifan lokal.
“Saya sangat bangga dengan Bantaragung, petani di sini telah menjaga alamnya dengan baik. Beras organik tentunya lebih menyehatkan, serta terasa lebih pulen, ” ucapnya.
Majalengka Mart

Beras Organik yang merupakan hasil bumi dari Desa Bantaragung Kecamatan Sindangwangi Kabupaten Majalengka juga telah masuk mini market khusus yang menjajakan produk-produk lokal Usaha Kecil Menengah (UKM) Majalengka, Majalengka Mart.
Beras Organik Pakuwon telah ada di stand Majalengka Mart pada pertengahan Oktober 2025. Owner Majalengka Mart, Asep Rahmat mengatakan produk dari Bantaragung yakni Beras Organik Pakuwon memang baru masuk di mini market Majalengka Mart pada pertengahan Oktober 2025.
Produk baru bernuansa alami dan sehat ini telah cukup menarik perhatian pengunjung terutama kalangan ibu-ibu.
“Kami terbuka untuk semua produk lokal Majalengka. Yang terbaru yakni beras organik Pakuwon asal Bantaragung, ” ungkapnya.
Asep menambahkan, biasanya yang dijajakan Majalengka Mart mulai dari aneka cemilan seperti keripik hingga produk kreasi tangan, seperti tas, boboko dan lainnya yang merupakan produk lokal yang dibuat oleh orang Majalengka.
“Perlu kita apresiasi, berasnya juga organik. Sudah pasti sehat karena ditanam tanpa pestisida, tanpa pupuk industri. Saat ini, Majalengka Mart akan diadopsi di sejumlah wilayah di Indonesia, pasarnya terbuka lebar, ” ungkapnya.
Sementara itu pengunjung Majalengka Mart, Winarsih (30) mengatakan, semula ia hanya akan membeli aneka cemilan untuk dimakan dalam perjalanannya pulang ke Bandung. Namun, ia melihat ada beras organik Pakuwon Bantaragung, ia pun langsung membelinya.
“Kebetulan stok di rumah sedikit lagi, akhirnya saya coba beli 5 kg. Kami sekeluarga menjunjung tinggi makanan sehat, ” ujarnya.
Mengedukasi Masyarakat untuk Tetap Organik

Kepala Desa Bantaragung, Samhari mengatakan, awal mula menanam padi tanpa pestisida dan pupuk kimia memang terasa berat. Tahun pertama, ia mulai mengubah pola pikir petani lokal. Namun, berkat kegigihan kepemimpinannya, dalam mengedukasi pertanian organik, lambat laun, pola pikir petani menjadi berubah.
“Awal mulanya memang berat, karena mengubah pola pikir petani yang harus meninggalkan pestisida untuk tumbuh kembang padi organik itu memerlukan waktu, ” ujar kepala desa.
Kini, pihaknya merasa bangga dan gembira. Tujuh hektare tanah sawah bengkok seratus persen dikelola secara organik.
“Padi organik itu telah kami pasarkan, Alhamdulillah diterima pasar. Minggu lalu kami kirimkan juga ke Majalengka Mart, ” ungkapnya.
Menurutnya, peran Bank Indonesia sangat berarti dalam mendukung keberlangsungan masyarakat di Bantaragung. Lumbung Pakan dan mesin pencacah padi dengan teknologi mutakhir diberikan langsung oleh Bank Indonesia.
“Bank Indonesia telah membantu kami. Tentunya kami bersyukur dan mengucap terima kasih, ” ucapnya.
Teras dan Pasar Bumi Pakuwon

Selain suport untuk pertanian organik, Bank Indonesia juga terlibat langsung dalam program keberlanjutannya. Salah satunya menghidupkan kuliner dan pangan lokal, sekaligus melestarikan kesenian-kesenian Sunda lokal yang ada di Bantaragung Majalengka.
“Telah satu tahun ini, kita punya Pasar Bumi Pakuwon. Pasar ini unik, karena menjajakan mayoritas pangan lokal,” ujar direktur Bumdes Bantaragung, Bambang Suryaatmaja, ketika ditemui awal Oktober 2025.
Di pasar Bumi Pakuwon, lanjut Bambang, transaksinya menggunakan mata uang khusus uang yang diberi nama Benggol.
Benggol ini merupakan koin yang terbuat dari kayu jati walanda. Fungsinya sebagai alat tukar untuk membeli pangan-pangan lokal dan hasil bumi para petani Bantaragung.
“Benggol ini alat tukar, zaman dulu sudah ada di sini. Kita ingin menghidupkan kembali nostalgia bertransaksi tersebut, “ucap Bambang.
Promosi Efektif

Para pengunjung di Pasar Bumi Pakuwon harus menukarkan uang rupiah mereka sebelum dibelanjakan di Pasar Bumi Pakuwon. Dalam satu ikat Benggol ada lima keping kayu, dengan satu keping bernilai lima ribu rupiah.
“Daya tariknya justru di Benggol itu. Kita mencatat, dua ribu keping Benggol habis terjual, ” ujarnya.
Bambang menceritakan, dalam catatan pada bulan September lalu, pengunjung yang datang ke Pasar Bumi Pakuwon mencapai dua ribu lebih. Sementara tercatat dari dua ribu keping Benggol, tersisa tujuh ratus keping.
“Bonggolnya mungkin dibawa pengunjung pulang, atau bisa jadi karena mereka tak sempat belanja di Pasar Bumi Pakuwon karena kehabisan jajanan, ” ucapnya sambil tersenyum.
Membangun Ekosistem Bermodal Sosial

Sementara itu, Plt. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Fickry Widya Nugraha mengatakan, progres desa wisata Bantaragung dianggap cukup pesat. Ia menuturkan, Bank Indonesia Cirebon menjadi bagian dari perkembangan desa Bantaragung dimulai dari pendampingan gapoktan yang ada di desa.
Bank Indonesia Cirebon saat itu melakukan pendampingan klaster padi, dalam upaya mengendalikan inflasi hingga menjaga stabilitas pangan. Namun pada perkembangannya, Bank Indonesia melihat ada potensi lain yang bisa mendorong perekonomian desa dan disadari oleh masyarakatnya.
“Awal pendampingan gapoktan padi itu tahun 2022 ya, dan progresnya juga bagus, petani sudah menghasilkan padi organik bahkan berpotensi untuk ekspor,” ujar Fickry.
Pada perkembangannya, warga desa setempat sepakat untuk mengembangkan potensi lain, yakni membuat Pasar Bumi Pakuwon yang menggunakan benggol koin dari kayu sebagai alat tukar.
Pengunjung yang akan berbelanja di pasar tersebut harus membeli benggol di tempat penukaran. Ia menyebutkan, rata-rata perputaran uang menggunakan Qris mencapai Rp 20 juta transaksi per-sekali transaksi untuk ditukar dengan benggol.
“Untuk dapat benggol, tukar pakai uang rupiah, bayarnya kami utamakan pakai Qris tapi tunai juga bisa,” ujarnya.
Menurutnya, Festival Bantaragung yang menjadi agenda tahunan desa menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan berkunjung. Ragam potensi bisa dikembangkan di Desa Bantaragung memiliki peluang untuk mengekspor produk halal ke luar negeri.
Ia menjelaskan, Jawa Barat berada di nomor urut pertama pada global muslim traveler indeks. Data tersebut berpeluang pada produk padi organik Bantaragung untuk di ekspor ke negara luar.
“Sekarang padi organik mulai diminati, walaupun masih potensi ekspor dan kita masih fokus di dalam negeri dulu ya, karena bisa mengendalikan inflasi,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, ia menyatakan seluruh aktivasi yang dilakukan Bank Indonesia Cirebon di Bantaragung adalah membangun ekosistem. Bantaragung, katanya menjadi prototipe agro wisata yang ada di Ciayumajakuning.
Oleh karena itu, kedepan model ekosistem tersebut akan direplikasi di desa wisata yang lain di Jawa Barat. Namun, katanya, untuk membangun ekosistem tersebut membutuhkan pra syarat seperti identitas budaya, kondisi alam hingga kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM).
“Nah di Bantaragung ini modal sosialnya telah ada dan kesadaran masyarakatnya sudah terbentuk, jadi bukan kami yang mendorong untuk membangun ekosistem ini, tapi mereka sendiri,” ujarnya.
Editor: Noer Panji


