spot_img
Senin, Maret 16, 2026
More

    Donor Mata, Jalan Sunyi Kemanusiaan Jemaah Ahmadiyah Manislor

    CIAYUMAJAKUNING.ID: Ketika sebagian orang terlelap dalam tidur, Bidan Ifa Latifatunisa (36) justru kerap terjaga. Ini sebagai konsekuensi yang harus dijalani Ifa sebagai  bidan sekaligus petugas pengambilan konea mata atau Xenotransplantasi Cornea (xcc) di Desa Manislor Kabupaten Kuningan Jawa Barat.

    Sejak 2017, Bidan Ifa terlibat sebagai salah satu teknisi pengambilan kornea mata. Berawal dari hanya melihat, mengamati dari dekat kemudian belajar langsung dari seorang dr Engkun Sumarna seorang dokter umum asal Cirebon yang sudah tersertifikasi sebagai teknisi pengambilan kornea mata.

    Setiap ada warga meninggal dunia dan bersedia menjadi pendonor mata, Dokter Engkun datang, dan Bidan Ifa memperhatikan dengan saksama. Rasa takut sempat muncul, meski berlatar belakang tenaga kesehatan, pengambilan kornea bukanlah bidang yang biasa ia tekuni.

    Proses pengambilan kornea memerlukan ketelitian dan kehati-hatian. Petugas medis terlebih dahulu mengambil darah pendonor melalui vena jugularis untuk memastikan pemeriksaan laboratorium, bahwa tidak ada penyakit menular. Setelah semuanya dinyatakan aman, kornea diambil secara steril lalu diawetkan dalam cairan khusus bernama optisol.

    “Saya lihat dulu caranya, belajar dari Dokter Engkun. Setiap ada pendonor meninggal, beliau datang ke desa dan saya mendampingi bersama bidan senior yang lain,” kenang Ifa, Senin (18/12/2024).

    Perlahan, peran itu berpindah. Dari Dokter Engkun, ke Bidan Iin, hingga akhirnya Ifa harus turun langsung ketika Bidan Iin jatuh sakit.

    “Karena saya sudah sering lihat proses hingga tahapannya, akhirnya saya yang turun,” tuturnya.

    Ifa mengaku sempat diliputi ketakutan karena mengambil kornea mata memang bukan bidangnya. Bahkan, di benak Ifa, pengambilan kornea terdengar mengerikan.

    Namun anggapan itu runtuh setelah ia melihat langsung proses sebenarnya. Ada pelatihan khusus, prosedur medis yang ketat, dan penghormatan penuh terhadap jenazah.

    “Awalnya awam. Saya pikir matanya dicongkel ternyata yang diambil hanya bagian korneanya,” tuturnya jujur.

    Sukarela

    Makam pendonor mata warga Ahmadiyah Manislor Kuningan. (Ciayumajakuning.id)

    Setelah selesai, kornea segera dikirim ke RS Mata Cicendo Bandung atau ke Bank Mata Pusat. Proses itu harus cepat, presisi, dan sering kali dilakukan dalam kondisi tak terduga.

    Oleh karena itu, tak jarang, bidan Ifa harus rutin bangun di tengah malam ketika ada calon pendonor mata di lingkungannya meninggal dunia.

    “Lagi tidur, tiba-tiba dibangunkan untuk ambil kornea dari pendonor,” katanya.

    Tak ada honor besar, tak ada panggung. Hanya kesadaran bahwa waktu adalah segalanya—bagi seseorang yang menunggu cahaya.

    Dalam tugasnya, Ifa tidak sendirian, ada bidan lain seperti Iin dan Leni yang juga terlibat. Mereka bekerja bergantian, memastikan setiap donor mata ditangani dengan layak dan bermartabat.

    “Saya sukarela. Ini bentuk berkhidmat, bukan dengan harta, tapi dengan waktu dan tenaga,” katanya.

    Tak hanya menjadi pengambil kornea, Bidan Ifa juga telah mendaftarkan dirinya sebagai calon pendonor mata sejak 2017. Di lingkungan sekitar, sebagian besar warga merupakan Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) Desa Manislor Kabupaten Kuningan.

    Hingga pada perjalanannya, gerakan donor mata Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Desa Manislor Kabupaten Kuningan Jawa Barat menjadi salah satu yang terbanyak hingga meraih penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI). Data terbaru menyebutkan hingga saat ini jumlah keseluruhan pendonor yang berasal dari JAI Cabang Manislor Kuningan lebih dari 2100 orang.

    Sementara sejak 2015 hingga saat ini total keseluruhan korena mata dari Jemaah Ahmadiyah cabang Manislor sebanyak 122 orang. Memasuki tahun 2026, dikabarkan tercatat ada 1 calon pendonor yang sudah mendaftarkan diri, sehingga total keseluruhan kornea mata dari Jemaah Ahmadiyah Manislor Kuningan yang sudah diambil sebanyak 123 orang.

    Dari jumlah 2.100 calon pendonor, sebanyak 1.015 calon pendonor mata Jemaah Ahmadiyah Manislor Kuningan adalah perempuan. Sementara 900 laki-laki dan lebih dari 200 calon pendonor adalah anak-anak.

    Pengabdian Kemanusiaan

    Diketahui, komitmen JAI Cabang Manislor, Kabupaten Kuningan, dalam gerakan donor kornea mata terus ditegaskan sebagai bentuk pengabdian kemanusiaan mereka. Bagi mereka, kematian bukan akhir dari manfaat, melainkan awal dari harapan baru bagi mereka yang kehilangan penglihatan.

    Ketua Cabang JAI Manislor Kuningan, Yusuf Ahmadi menjelaskan praktik dan prinsip jamaah melakukan donor kornea mata yang telah dijalankan sejak lama. Yusuf menegaskan, dalam mekanisme donor kornea mata, persetujuan ahli waris tetap menjadi hal utama.

    Meskipun seseorang telah mendaftarkan diri sebagai calon pendonor semasa hidup, keputusan akhir tetap berada di tangan keluarga setelah yang bersangkutan meninggal dunia.

    “Ketika seseorang mendaftar sebagai pendonor kornea mata, itu ditandatangani juga oleh ahli waris. Namun saat yang bersangkutan meninggal, persetujuan itu akan ditanyakan kembali. Kalau ahli waris menolak, kami tidak bisa memaksa,” ujar Yusuf, Rabu (18/12/2024).

    Program donor kornea mata di Manislor sendiri diluncurkan pada 2014. Namun secara nasional dan internasional, gerakan kemanusiaan Jamaah Ahmadiyah telah berlangsung jauh lebih lama.

    “Seruan untuk pengabdian kemanusiaan itu sudah ada sejak lama dari pimpinan kami. Bahkan sejak masa Khalifah terdahulu, isu-isu sosial dan kemanusiaan sudah sangat ditekankan,” jelas Yusuf.

    Semangat tersebut juga tercermin dalam organisasi kemanusiaan internasional Humanity First, yang telah bergerak di berbagai negara dan melibatkan relawan lintas agama.

    Ia menambahkan, hingga kini belum pernah terjadi kasus penolakan dari ahli waris terhadap donor kornea mata di lingkungan JAI Manislor.

    “Yang bergabung di Humanity First itu bukan hanya umat Islam. Banyak dari berbagai latar belakang. Kemanusiaan itu lintas iman, lintas suku, dan lintas bangsa,” katanya.

    Yusuf mengungkapkan, ada alasan kuat mengapa donor yang diserukan lebih difokuskan pada kornea mata. Selain karena kebutuhan yang sangat tinggi, donor kornea dilakukan setelah seseorang meninggal dunia.

    Tanggungjawab Moral

    “Kalau donor ginjal, itu dilakukan saat orang masih hidup. Sementara donor mata dilakukan setelah meninggal. Itu yang menjadi pertimbangan utama,” ujarnya.

    Namun ia tak menampik, di tingkat lokal, tantangan masih ada. Terutama soal pola pikir masyarakat yang masih mengaitkan donor dengan urusan keyakinan.

    Namun demikian, Yusuf menyadari, gerakan yang dilakukan Jamaah Ahmadiyah Manislor tak selalu diterima dengan mudah. Diskriminasi dan stigma menjadi bagian dari perjalanan panjang mereka.

    “Diintimidasi, didiskriminasi, itu kami terima saja. Tapi kemanusiaan harus tetap berjalan. Padahal saat kita bicara kemanusiaan, seharusnya tidak lagi bicara akidah atau teritorial,” ucapnya lirih.

    Bagi Yusuf dan jamaahnya, memberi bukan soal pengakuan, melainkan tanggung jawab moral. Di Manislor, cahaya itu terus diwariskan. Lewat sepasang mata yang tak lagi melihat, namun justru membuat dunia orang lain kembali terang.

    Yusuf mengungkapkan, di Desa Manislor, gerakan donor korena mata pertama kali dipelopori oleh Dokter Engkun. Saat itu, katanya, dokter Engkun mengajarkan kepada kader Jamaah Ahmadiyah Manislor untuk praktek mengambil kornea mata pada kambing.

    “Terutama tenaga kesehatan yang ada di Manislor salah satunya bidan sampai siap mengemban amanah sebagai petugas donor mata di desa. Tiap ada calon pendonor yang meninggal mereka yang sudah dilatih otomatis membantu mengambil kornea matanya kemudian dikirim ke RS Cicendo,” ujar Yusuf.

    Hingga pada perjalanannya, Yusuf mengatakan Pemkab Kuningan pernah mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai daerah dengan calon pendonor mata terbesar di Indonesia.

    Ia mengatakan, batasan mata yang bisa bisa didonorkan tidak lebih dari 6 jam setelah meninggal. Ia menjelaskan, mata yang sudah didonorkan kemudian sepenuhnya dikelola oleh Komunitas Donor Mata Indonesia (KDMI).

    “Jika ada warga yang butuh donor, kita arahkan ke bank mata di Cicendo Bandung.

    Dampak ke Masyarakat

    Soal dukungan pemerintah yang dirasakan memang blum jadi program utama pemerintah sehingga kurang. Soal anggaran ini kendala yang dialami oleh KDMI nya,” ujarnya.

    Ia mengaku sangat bersyukur gerakan yang diinisiasi jemaat berdampak baik kepada citra pemerintah daerah setempat. Ia berharap pemerintah terus mendukung bila perlu mengadopsi program tersebut menjadi salah satu program unggulan.

    “Yang saya dengar almarhum Bupati Kuningan Acep Purnama juga mengisi formulir untuk mendonorkan matanya,” ujarnya.

    Salah seorang warga pemuda Ahmadiyah Fiqi Mansi (35) mengatakan, selain menjadi salah satu program unggulan jemaat, donor kornea mata telah dirasakan berdampak kepada masyarakat.

    “Dirasakan bahwa ketika sudah meninggal masih bisa bermanfaat untuk orang lain menurut saya seperti itu. Di keluarga selain saya ada lagi yaitu ibu saya dan sebelumnya Almarhum bapak saya sudah mendonorkan mata tahun 2017 dan itu melalui mekanisme dan proses administrasi,” ujar Fiqi.

    Sebagai mantan pengurus pemuda Ahmadiyah Mansilor, ia mengakui tidak ada paksaan bagi jemaat ataupun warga sekitar untuk mendonorkan matanya. Ia bersama pengurus pun kerap membantu organisasi untuk mengakomodir pendaftaran donor mata khusus di Manislor.

    Saya kalau enggak salah pendaftaran kelas 2. Pendaftaran dibuka setiap hari. Eee, jadi, setiap tahun saya permohonan jika dilihat dari keanggotaan di Desa Manislor.

    “Kami pun hanya memberi motivasi kepada jemaat khususnya Ahmadiyah Manislor tanpa ada paksaan maupun batas usia. Saat saya menjadi pengurus paling muda yang mendaftar usia 15 tahun,” ujarnya.

    Fiqi sendiri mengaku memutuskan untuk mendaftar sebagai calon pendonor kornea mata sejak ia menjadi pengurus pemuda Ahmadiyah Manislor. Ia membutuhkan waktu cukup lama untuk meyakinkan diri sebelum memutuskan mendaftar sebagai calon pendonor mata.

    Setelah mengikuti berbagai kegiatan yang dijalankan organisasi terkait donor mata, ia termotivasi sendiri untuk mengisi formulir calon pendonor mata di Desa Manislor.

    MUI Kuningan

    Ketua MUI Kuningan Jawa Barat Dodo Syarif Hidayatullah. (Ciayumajakuning.id)

    “Bahkan saya juga mengajak pemuda lain lah untuk bisa bergabung juga menggalakkan program kornea matanya. Tapi tetap tidak dipaksakan bahkan ada juga jemaat yang tidak mau ya tidak masalah,” ujarnya.

    Ketua MUI Kuningan Jawa Barat, Dodo Syarif Hidayatullah mengatakan, Di tengah praktik donor kornea mata, diskursus keagamaan kerap menjadi pertanyaan publik. Ketua MUI Kabupaten Kuningan, Dodo Syarif Hidayatullah, mengakui adanya perbedaan pandangan dalam fikih terkait donor organ.

    “Kalau dari sisi medis, tentu para ahli yang lebih tahu. Saya sendiri dulu pernah bertanya, donor mata itu diambilnya dicungkil atau bagaimana,” ujar Dodo usai menghadiri Jalsah di Desa Manislor Kuningan (6/12/2025)

    Dari hasil diskusinya dengan kalangan medis, Dodo memahami bahwa yang diambil bukan seluruh mata.

    “Ternyata bukan itu. Yang diambil hanya korneanya saja,” katanya.

    Menurutnya, dalam kajian fikih, memang ada pro dan kontra. Sebagian ulama membolehkan karena melihat aspek media atau perantara, sementara sebagian lain bersikap hati-hati.

    “Saya pernah ngobrol dengan seorang profesor waktu kuliah. Katanya, kalau berkaitan dengan organ yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat, itu tidak boleh,” tuturnya.

    Namun Dodo menilai, pada kasus kornea, persoalannya masih terbuka untuk dikaji.

    “Yang ditanya itu korneanya atau matanya? Nah, ini wilayah ijtihad,” ujarnya.

    Ia menekankan bahwa donor kornea mata dilakukan setelah seseorang meninggal dunia, serta membawa manfaat sosial yang besar.

    “Lagi-lagi kita melihat sisi kemanfaatannya untuk sosial. Itu yang penting,” kata Dodo.

    Terafiliasi Bank Mata

    Kepala Desa Manislor Kuningan Jawa Barat Rusdi Sriwiyata. (Ciayumajakuning.id)

    Terpisah Kepala Desa Manislor Rusdi Sriwiyata mengatakan gerakan donor kornea mata bersifat sukarela. Ia menegaskan calon pendonor mata hanya dari kalangan Jemaah Ahmadiyah saja, melainkan terbuka untuk semua kalangan sejauh memenuhi syarat dan ketentuan.

    Begitu juga petugas yang mengambil kornea mata setiap ada warga yang meninggal. Mereka secara sukarela memberikan waktu untuk mengambil kornea mata tanpa dibayar sepeserpun bahkan kerap mengeluarkan biaya sendiri setiap kali kornea tersebut diantar ke Rs Cicendo atau bank mata Jakarta.

    Rusdi yang juga sebagai ketua Bank Mata Kuningan mengatakan, aktivitasnya sebagai petugas donor mata semua terafiliasi dengan bank mata di Jakarta dan Cicendo.

    “Jadi awal kegiatan Bank Mata di Kuningan itu ada sosialisasi dari Bank Mata Cirebon. Mereka membawa pengurus Bank Mata Jakarta. Datang langsung ke sini ke Masjid An-Nur di Manislor,” ujarnya.

    Sosialisasi tersebut berkaitan dengan pentingnya kegiatan donor mata. Saat sosialisasi, peserta yang datang sebagian besar dari Jemaat Ahmadiyah yang berusia 40 tahun keatas.

    Singkat cerita, beberapa waktu setelah sosialisasi, warga Jemaah Ahmadiyah nampak antusias. Dalam materi sosialisasi juga membahas pandangan masing-masing agama terhadap donor mata.

    “Soal pandangan agama terutama Islam juga yang menguatkan Jemaah Ahmadiyah antusias donor mata bahkan ketika ditawarkan jemaah banyak yang mengacungkan tangan daftar calon pendonor kemudian mereka isi formulir. Selain itu nampaknya di Ahmadiyah ini kalau pimpinannya pimpinan sudah menyepakati otmatis Jemaah pasti mengikuti,” ujar Rusdi.

    Pada perjalanannya, jumlah calon pendonor mata terus mengalami peningkatan. Namun, katanya, saat itu petugas yang mengambil korne mata adalah tim tenaga medis dari Cirebon dan Bandung.

    “Kalau sekarang sudah ada dari Manislor sendiri yang sudah dilatih dan bersedia mengambil kornea mata setiap ada yang meninggal di lingkungan desa kami,” ujarnya.

    Editor: Asep Saefullah

    Berita Lainnya

    spot_img

    Related Stories