CIAYUMAJAKUNING.ID – Pemkab Kuningan dan Kementerian Kebudayaan RI meresmikan Balai Edukasi dan Ekosistem Kuningan (BEEK) di Gedung Graha Wangi, Sabtu (07/02).
Kegiatan tersebut sekaligus menandai setahun aktivitas kreatif Yayasan Tulisan dan Gambar (TUDGAM).
Momentum ini menjadi tonggak pemajuan kebudayaan, pemanfaatan cagar budaya dan pengembangan ruang publik berbasis seni.
Acara di hadiri Sekretaris Ditjen PPPK Kemenbud RI Judi Wahjudin, Stafsus Menbud Annisa Rengganis dan perwakilan BI Cirebon Ari Andira.
Plt Kadisdikbud Kuningan Purwadi Hasan Darsono, Kepala BEEK Agung M. Abdul, Kabid Kebudayaan Disdikbud Kuningan Fanny Amaliasari.
Serta para seniman dan komunitas budaya Kuningan di antaranya Yusuf Oeblet (Padepokan Bumi Seni Tari Kolot) dan Edi Supardi (Teater Sado).
Wakil Bupati Kuningan Tuti Andriani yang hadir dalam kegiatan mengapresiasi perhatian pusat terhadap geliat seni budaya di daerah.
Ia menegaskan Gedung Graha Wangi merupakan salah satu bangunan heritage yang telah di tetapkan sebagai bagian dari cagar budaya.
“Graha Wangi adalah warisan bersejarah yang memiliki nilai penting. Karena itu harus kita jaga, rawat, dan manfaatkan bersama,” ucap Tuti.
Kehadiran BEEK, terangnya, menyediakan ruang ekspresi, laboratorium kreativitas, penggerak literasi budaya dan ekonomi kreatif.
Pemkab Kuningan berkomitmen mendukung komunitas kreatif melalui penguatan karakter dan ekosistem kebudayaan.
Wabup Tuti berharap kehadiran Kemenbus RI memperkuat sinergi fasilitas ruang publik seni dan pelestarian budaya lokal.
Sekretaris Di tjen PPPK Kemenbud Judi Wahjudin menilai pemanfaatan cagar budaya merupakan praktik yang perlu di perluas.
“Cagar budaya harus di manfaatkan agar hidup dan memberi dampak sosial ekonomi,” tuturnya.
Kebudayaan, jelas Judi, adalah profesi yang harus di hargai dan di perkuat melalui kebijakan serta akses ruang.
Kemenbud RI membuka peluang revitalisasi ruang budaya dan dukungan program bagi lembaga berbadan hukum.
BEEK merupakan reformulasi TUDGAM menjadi art collective compound yang menampung berbagai inisiatif kreatif di antaranya Kuningan Biennale.
Kehadirannya di harapkan menjadi katalisator lahirnya karya budaya baru sekaligus memperkuat identitas lokal Kuningan. ***



