spot_img
Jumat, April 17, 2026
More

    Kabupaten Cirebon Masih Darurat Sampah, Ini Upaya Pemkab

    CIAYUMAJAKUNING.ID – Memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026, DLH Kabupaten Cirebon melakukan pengelolaan sampah di Hutan Kota Sumber, Jumat (10/04).

    Wakil Bupati Cirebon Agus Kurniawan Budiman (Jigus) mengatakan kegiatan itu menjadi momentum meningkatkan kesadaran kolektif dalam menghadapi persoalan sampah.

    “Persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemda tetapi seluruh elemen masyarakat,” katanya.

    Jigus menambahkan HPSN secara nasional di peringati setiap 21 Februari dan menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Cirebon.

    Ia berharap kegiatan tersebut mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.

    Saat ini tantangan terbesar pengelolaan sampah di Kabupaten Cirebon berasal dari pertumbuhan jumlah penduduk dan pola konsumsi masyarakat.

    Karena itu, masyarakat di dorong untuk lebih peduli lingkungan dengan mengurangi sampah dan menjaga kebersihan.

    Sekda Hendra Nirmala menegaskan HPSN merupakan gerakan yang memotivasi seluruh elemen bangsa untuk terlibat dalam pengelolaan sampah.

    “Upaya DLH tidak akan berarti jika tidak ada kolaborasi dan kesadaran masyarakat dalam membuang serta memilah sampah,” ujarnya.

    Saat ini produksi sampah di Kabupaten Cirebon mencapai sekitar 1.200 ton per hari.

    Namun, kemampuan penanganan saat ini baru sekitar 400 ton per hari sehingga masih terdapat kesenjangan besar dalam pengelolaan sampah.

    Menurut Hendra keterbatasan sarpras menjadi kendala utama.

    Seperti jumlah armada angkutan (amrol), kontainer dan alat berat yang sebagian mengalami kerusakan.

    Kondisi tersebut menyebabkan munculnya titik-titik sampah liar dan keterlambatan pengangkutan di sejumlah TPS.

    Kabupaten Cirebon saat ini masih berstatus darurat sampah sehingga membutuhkan langkah kolaboratif dan inovatif untuk penanganannya.

    Pemda juga tengah menjajaki kerja sama dengan investor untuk mengolah sampah, khususnya organik.

    Kerja sama itu bertujuan mengolah sampah menjadi produk bernilai seperti refuse-derived fuel (RDF) atau bahan bakar alternatif bagi industri semen.

    Selain itu, upaya edukasi akan di perkuat melalui sektor pendidikan dengan memasukkan materi pengelolaan sampah sejak dini.

    Kepala DLH Dede Sudiono menambahkan pengelolaan sampah dapat di selesaikan melalui kolaborasi semua pihak dengan langkah sederhana.

    “Seperti memilah sampah dari sumbernya,” ujarnya.

    Dede menjelaskan sampah organik dapat di olah secara mandiri melalui metode sederhana seperti biopori.

    Sehingga dapat mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA.

    Jika pemilahan di lakukan secara konsisten maka sampah yang masuk ke TPA hanya berupa residu yang tidak dapat di olah.

    Masyarakat jug di dorong untuk mengurangi penggunaan plastik dan kembali memanfaatkan bahan alami seperti daun pisang atau daun jati sebagai pembungkus. ***

    Berita Lainnya

    spot_img

    Related Stories