CIAYUMAJAKUNING.ID – Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati mengingatkan jika persoalan gizi buruk dan stunting masih menjadi tantangan nyata yang harus di tangani secara serius.
Demikian ia sampaikan saat rakor Penyelenggaraan MBG di Balai Kota Cirebon, Rabu (15/04).
Hal itu, lanjut Siti, di lakukan dengan intervensi yang terukur dan berkelanjutan.
“Khususnya pada fase emas pertumbuhan manusia, menjadi kunci dalam memutus rantai permasalahan tersebut,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, ia menegaskan pentingnya fokus pada kelompok prioritas 3B yaitu ibu hamil, ibu menyusui dan balita non-PAUD.
Ketiga kelompok ini, kata Siti, merupakan sasaran strategis yang tidak boleh terabaikan dalam kondisi apa pun.
Ia pun menginstruksikan supaya distribusi MBG memperhatikan kedekatan radius dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Hal ini penting guna menjaga kualitas makanan yang di terima baik dari segi kesegaran, suhu maupun kandungan gizinya.
“Distribusi yang dekat akan memudahkan pengawasan dan memastikan kualitas layanan tetap terjaga,” tuturnya.
Kepala DPPPAPPKB Suwarso Budi Winarno menambahkan pendistribusian MBG bagi kelompok 3B di lakukan rutin tiap Senin hingga Sabtu.
Paket makanan yang di berikan berupa makanan segar atau yang di sesuaikan dengan kebutuhan nutrisi.
Guna memastikannya, DPPPAPPKB melibatkan 771 personel Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang tersebar di lima kecamatan.
“Dengan memprioritaskan ibu hamil KEK (Kurang Energi Kronis) dari keluarga berisiko stunting dan balita stunting,” ujarnya.
Suwarso berharap MBG ini bisa menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas SDM melalui pencegahan stunting dan pemenuhan gizi.
Sementara itu, Korwil SPPG Kota Cirebon Yoga Adijaya menyampaikan terdapat 43 SPPG yang tersebar di lima kecamatan Kota Cirebon.
Fokus utama dalam rapat ini adalah standarisasi fasilitas pendukung dan Data rekapitulasi mencakup evaluasi terhadap Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
“Saat ini, ada 19 SPPG yang sudah memiliki SLHS dan 24 SPPG belum memiliki dan masih on proses,” ujarnya.
Kesiapan infrastruktur pendukung seperti sistem pengolahan limbah (IPAL) dan ketersediaan food security kit pun di perkuat.
Pemutakhiran data sasaran juga menjadi perhatian utama supaya program MBG benar-benar menjangkau kelompok yang membutuhkan.
“Kami terus berupaya memastikan setiap SPPG memenuhi standar operasional, baik dari sisi sanitasi, keamanan pangan maupun distribusi,” pungkas Yoga. ***



