CIAYUMAJAKUNING.ID – Hartato alias ‘Kang Modin‘ adalah sosok yang tengah populer di dunia maya melalui konten ‘Berita Dina Kien’ di media sosial yang berhasil mengubah spektrum dunia maya Kabupaten Indramayu.
Ia berhasil menyampaikan informasi yang segar, renyah dan ringan di tengah arus info medsos yang berat, serius dan kaku.
Warga Desa Longok Kecamatan Sliyeg itu di kenal sehari-hari bertugas sebagai Pembantu Petugas Pencatat Nikah (P3N) di KUA Sliyeg.
Kang Modin memandu berita dengan menggunakan bahasa daerah ‘Dermayonan’ dialek khas Sliyeg.
Ia berhasil menarik perhatian publik di berbagai platform seperti Facebook dan TikTok.
Perjalalan hidup Hartato yang lahir 4 September 1977 penuh liku dan perjuangan.
Berasal dari Desa Longok yang jauh dari sana-sini, ia tumbuh dalam keterbatasan ekonomi.
Hartato hanya menempuh pendidikan hingga tingkat SD.
Ia pernah merantau ke Jakarta dan bekerja serabutan termasuk sebagai tenaga perawat rumput di lapangan golf.
Sekembalinya ke kampung halaman, pada tahun 1998-2014, Hartato mengabdi sebagai pamong Desa Longok.
Ia menjabat sebagai Modin/Pembantu Petugas Pencatat Nikah (P3N) dengan sambil terus mengasah bakat seninya.
Dewi Fortuna menaungi Kang Modin dengan di angkat sebagai ASN di KUA Sliyeg pada tahun 2014.
Tugasnya meliputi administrasi pernikahan, perceraian hingga urusan kematian warga.
Kang Modin sempat melanjutkan pendidikan yang dulu tertinggal melalui program Kejar Paket B.
Jabatannya sebagai modin desa membuat nama “Kang Modin” melekat kuat di tambah dengan mimik muka yang lucu saat membaca berita.
Bakat seni yang dimiliki sejak kecil, menjadi titik awal perjalanan kreatifnya.
Ia terlibat dalam pembuatan film lokal Legenda Wiralodra (2012) sebagai kru sekaligus pemain.
Serta Balada Sinden Jaipong (2013) yang semakin menguatkan identitasnya sebagai seniman
Kang Modin memerankan tokoh “Mang Darnya” dan beradu akting dengan seniman Indramayu lainnya.
”Jiwa seni saya sudah ada sejak kecil, istilahnya ‘ketetesan air banyolan’ dari leluhur, ” katanya, Kamis (23/04).
Kang Modin menyebut jika kakek atau pamannya dulu juga memiliki bakat seni.
“Saya senang ‘membodor (red: melucu) dengan teman-teman sejak dahulu,” tambahnya.
Konten ‘Berita Dina Kien’ sendiri di produksi secara mandiri dengan peralatan seadanya, jauh dari peralatan standar studio siaran.
Tema berita dan skenario di susun secara sederhana, selanjutnya kata-kata meluncur secara improvisasi.
Seluruh proses mulai dari ide, pengambilan gambar, skenario, hingga penyuntingan, ia lakukan sendiri.
”Saya ingin mengedukasi lewat banyolan dan satire agar lebih ringan di terima,” tutur Kang Modin. ***



