CIAYUMAJAKUNING.ID: Upaya meningkatkan kesejahteraan nelayan terus menjadi sorotan dalam sosialisasi penataan ruang laut yang digelar di Desa Gebang Mekar, Kabupaten Cirebon.
Kegiatan ini menegaskan pentingnya transformasi sistem perikanan tangkap yang berkelanjutan dan terintegrasi dari hulu hingga hilir. Anggota Komisi IV DPR RI, Rokhmin Dahuri, menyampaikan bahwa kesejahteraan nelayan tidak bisa dilihat dari satu aspek saja.
Menurutnya, ada banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari kondisi oseanografi, kesehatan ekosistem laut, teknologi penangkapan, hingga sistem pasar dan biaya hidup nelayan.
“Nelayan akan sejahtera jika pendapatan bersih lebih besar dari biaya hidup, dan aktivitas penangkapan tetap dalam batas lestari atau Maximum Sustainable Yield (MSY). Ini menjadi kunci keberlanjutan,” ujarnya.
Data menunjukkan, potensi perikanan Indonesia mencapai 12,01 juta ton per tahun berdasarkan konsep Maximum Sustainable Yield. Namun, pemanfaatannya baru sekitar 64,17 persen atau setara 8,64 juta ton per tahun. Kondisi ini membuka peluang besar untuk meningkatkan produktivitas tanpa merusak ekosistem.
Meski demikian, sektor perikanan tangkap masih dihadapkan pada berbagai tantangan serius. Di antaranya praktik overfishing, Illegal, Unreported and Unregulated Fishing, kerusakan ekosistem laut, pencemaran, hingga kemiskinan nelayan dan keterbatasan infrastruktur.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Rokhmin menekankan perlunya transformasi menyeluruh. Langkah strategis yang didorong meliputi penataan ruang laut berbasis ekosistem, penguatan kawasan pesisir seperti mangrove, lamun, dan terumbu karang, hingga penerapan sistem penangkapan ikan berbasis kuota yang tidak melebihi MSY.
Selain itu, modernisasi pelabuhan perikanan, penerapan praktik penanganan hasil tangkap yang baik, penguatan sistem logistik, serta pemberantasan praktik penangkapan ilegal juga menjadi prioritas.
Tak kalah penting, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) nelayan melalui pendidikan dan pelatihan terus didorong.
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut menegaskan, keberhasilan sektor perikanan tidak hanya diukur dari besarnya produksi, tetapi juga dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat nelayan.
“Target akhirnya adalah nelayan sejahtera, pendapatan layak, produktivitas optimal, kontribusi sektor meningkat, dan ekosistem laut tetap terjaga,” katanya.
Kegiatan ini juga menyoroti pentingnya adaptasi terhadap perubahan global, seperti dampak perubahan iklim, perkembangan industri 4.0, serta tuntutan standar keberlanjutan internasional.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, penataan ruang laut dan transformasi sistem perikanan tangkap diharapkan menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan ekonomi biru yang berkelanjutan di Indonesia.



