
Caption Foto : Kepala Desa Kawunghilir makan-makan bersama warganya menyambut tahun baru Hijriah di kediamannya
CIAYUMAJAKUNING.ID – Anggaran Dana Desa yang telah mengalami pengurangan drastis dari total satu miliar menjadi hanya tiga ratus juta rupiah atau empat ratus juta (tergantun besaran anggaran di desa tersebut) menimbulkan reaksi protes dan kritik dari sejumlah kepala desa yang ada di Kabupaten Majalengka.
Alasannya cukup banyak, termasuk ketika pemerintah Desa bersama perangkat dan warganya punya usulan untuk mengatasi persoalan pengairan lahan pertanian pada musim kemarau. Pemerintah Desa Kawunghilir tak bisa mewujudkan keinginan warganya karena keterbatasan anggaran.
Hal ini salah satunya diungkapkan oleh Kepala Desa Kawunghilir Kecamatan Cigasong Kabupaten Majalengka, Hj. Yosa Novita. Pihaknya menjelaskan bagaimana dirinya kebingungan menghadapi musim kemarau ini. Kenapa? Karena uang dana desa Kawunghilir telah dipangkas ekitar Rp600 juta sekian, dengan alasan pemerintah pusat untuk pembangunan KDMP.
“Dari tahun 2025 itu sudah terpotong. Sementara pembangunan KDMP-nya ini belum dilaksanakan, tapi uangnya sudah. Saya bingung, pusing, lieur, ” ungkapnya, usai makan bersama warganya dalam rangka menyambut tahun baru Hijriah di rumahnya, Selasa (16/07/26)
Kepala Desa yang akrab disapa Bunda Yosa ini menambahkan, pihaknya telah menyediakan lahan, untuk pembangunan KDMP, titiknya telah ada namun belum ada pembangunan hingga saat ini pada pertengahan tahun 2026.
“Lahan telah kami siapkan. Tapi pembangunan KDMP belum. Saya mendukung adanya KDMP, namun sebaiknya dalam hal pemotongan anggaran, sebaiknya bagi yang sudah ada pembangunan Gerai KDMP saja, ” ucapnya.
Karena kebutuhan untuk warganya, Bunda Yosa telah mengeluarkan anggaran dari saku pribadinya, untuk membantu warganya mengalirkan air ke lahan sawah.
Anggaran untuk ketahanan pangan ini membutuhkan sedikitnya Rp300 juta lebih untuk memperbaiki talang air di Blok Dawuan. Dirinya rela mengelola dana tersebut yang penting untuk kebutuhan warganya.
“Tujuannya untuk dialirkan ke sawah? Untuk dialirkan ke sawah warga. Dengan adanya KDMP, uangnya sudah dipotong, dibangunnya belum. Saya udah nggak walakaya (nggak bisa apa-apa) sebagai kepala desa,” tandasnya.
Sementara saat ini, pemerintah pusat menggebarr-gemborkan untuk pembangunan KDMP di tiap desa dan kelurahan. Sementara persoalan lainnya termasuk program ketahanan pangan kurang mendapat sentuh an anggaran.
“Uangnya udah enggak ada? Pemerintah Desa Kawunghilir hanya menerima uang Rp200 juta sekian. Itupun sudah digunakan untuk perbaikan saluran air yang rusak, ” ujarnya.
Dengan kata lain, artinya bahwa dengan keterbatasan minimnya anggaran, akan sulit bagi pemerintah desa untuk mewujudkan, membantu para petani dalam hal pengairan sawah itu tersebut?
“Ya, betul sekali. Saya meminta, memohon, memohon dengan sangat, ke pemerintah, untuk tolonglah kalau KDMP-nya, pembangunannya belum dilaksanakan, uangnya jangan dipotong dulu. Karena kita desa sangat sekali membutuhkan dana desa tersebut. Jadi saya mohon kepada pemerintah untuk diperhatikan, sebelum dibangunnya KDMP, mohonlah jangan dipotong dulu karena di desa ini sangat membutuhkan sekali dana tersebut untuk kebutuhan lainnya, ” Ungkapnya.



