CIAYUMAJAKUNING.ID: Bank Indonesia (BI) mengambil langkah agresif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memastikan likuiditas perbankan tetap memadai di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.
Melalui serangkaian kebijakan moneter terbaru, BI memperluas fasilitas pendanaan perbankan, meningkatkan intensitas operasi pasar, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan BI tetap memberikan fasilitas swap reguler sesuai mekanisme pasar. Kebijakan ini menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga keseimbangan likuiditas dan mendukung stabilitas pasar keuangan domestik.
Selain itu, Bank Indonesia kembali membuka lelang instrumen repurchase agreement (repo) untuk tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan. Fasilitas tersebut memberikan ruang yang lebih luas bagi perbankan untuk memperoleh likuiditas sehingga aktivitas intermediasi dan pembiayaan kepada sektor riil dapat terus berjalan.
Menurut Ramdan, perluasan fasilitas repo tersebut juga menjadi strategi utama BI dalam mengelola likuiditas moneter. Ke depan, instrumen repo akan lebih dioptimalkan dibandingkan kebijakan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder yang selama ini menjadi salah satu instrumen pengelolaan likuiditas.
“Langkah ini dilakukan untuk memastikan pertumbuhan Uang Primer (M0) tetap terjaga pada level double digit atau di atas 10 persen,” ujarnya.
Tak hanya fokus pada likuiditas perbankan, BI juga meningkatkan operasi moneter baik dalam rupiah maupun valuta asing untuk memperkuat stabilitas kurs rupiah.
Pada pasar domestik, BI kini menggelar lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebanyak dua kali dalam sepekan.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik sekaligus menjaga keseimbangan likuiditas di pasar uang.
Sementara itu, intervensi di pasar valuta asing dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar internasional.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi BI untuk meredam volatilitas nilai tukar rupiah dan menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.
Di sisi lain, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi.
Sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang telah dibangun selama ini dinilai menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tekanan ekonomi global.
Ramdan menjelaskan, koordinasi tersebut sejalan dengan komitmen yang telah disampaikan bersama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia pada 6 Juni 2026 lalu.
Salah satu fokus utama kebijakan bersama tersebut adalah meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing, khususnya pada instrumen SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN), sehingga mampu mendorong masuknya aliran modal ke Indonesia.
Selain itu, pemerintah dan BI juga memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dengan menjaga pengelolaan kas pemerintah tetap berada di Bank Indonesia. Langkah ini diyakini akan memperkuat efektivitas kebijakan moneter sekaligus mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia optimistis fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat dan mampu menghadapi berbagai tantangan global.
Dengan sinergi kebijakan yang semakin erat antara otoritas fiskal dan moneter, stabilitas makroekonomi diharapkan tetap terjaga sehingga mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.



