spot_img
Senin, Februari 16, 2026
More

    Berguru Pangan Berkelanjutan Tak Perlu ke Luar Negeri

    Ngawangkong Pangan Pertama di An-Nabawie Majasuka Bahas Pangan Lokal dan Konsep Kultural

    CIAYUMAJAKUNING.ID – Konsep pertanian dan Peternakan Indonesia yang digaungkan oleh pemerintah, rupanya belum dirasa maksimal. Hal itu dialami oleh realita saat ini, terutama dirasakan para pelaku pertanian khususnya para petani dan kelompok tani yang langsung bersentuhan pada praktek nyata dan eksperimen.

    Konsep yang hanya sekedar teori, dirasakan betul ketika praktek langsung, nyatanya selalu ada potensi gagal. Namun, karena terus dikerjakan secara telaten dan ulet, maka keberhasilan nya akan segera diadopsi oleh para petani dan menjadi contoh.

    Sejumlah pangan lokal yang dibahas dalam acara Ngawangkong Pegiat Pangan Majalengka di saung An-Nabawie Agrolestari Desa Majasuka Kecamatan Palasah ini, yakni tentang tanaman Edamame, Alpukat dan Peternakan Ayam Sentul (merupakan unggas lokal asal Ciamis Jawa Barat yang saat ini dikembangkan di BPPTU Jawa Barat).

    Owner An-Nabawie Agrolestari, Jajang Ade Rukmana mengatakan, di tempatnya saat ini telah cukup banyak tanaman holtikultura, termasuk Edamame yang saat ini sedang dikembangkan. Pihaknya berharap Kabupaten Majalengka ke depan bisa jadi eksportir Edamame ke luar negeri.

    “Edamame sudah banyak permintaan dari Jepang. Saat ini, beberapa dapur MBG sudah banyak pula yang meminta disuplai. Juga nanti akan kerja sama dengan koperasi merah putih, ” ujarnya, Sabtu, 14 Februari 2026.

    Jajang menambahkan berbicara pangan saat ini telah bisa disejajarkan dengan alutsista atau senjata alat-alat perang. Runtuhnya barang pangan maka diprediksi suatu wilayah akan kolaps.

    “Pangan yang berkelanjutan nyatanya harus dimulai dari diri kita sendiri, ” ucapnya.

    Narasumber lainnya, pengamat pertanian dan peternakan juga Fesbukers, Prof. Ika Djatnika mengatakan, pengalaman berkunjung ke berbagai negara salah satunya Thailand, yang menanam edamame, ternyata tidak membutuhkan banyak petani yang terlibat.

    “Di sana hanya diperlukan tiga orang yang konsen dan ulet serta fokus, dan itu berhasil, ” ungkapnya.

    Prof. Ika juga menyinggung persoalan birokrasi, bahwa ketika ada program bantuan untuk peternakan misalnya, hanya berfokus pada acara Seremonial semata. Fakta setelah beres acara formal semacam itu, bantuan ternak itu diambil kembali oleh oknum oknum pejabat.

    “Di satu kabupaten pernah ada program bantuan kambing. Kambing itu di kupingnya sudah ada tanda warna tertentu. Di cek kembali sebulan kemudian, kambing-kambing itu sudah tak ada. Menurut para kelompok tani, sudah diambil oleh oknum pejabat, ” ujarnya menceritakan, yang kemudian disambut tawa oleh peserta diskusi yang hadir.

    Prof. Ika juga menyampaikan tentang kondisi lahan pertanian terkini. Bahwa berdasarkan hasil kajian para peneliti lahan, saat ini setiap menit dunia kehilangan lahan tanam seluas lapangan sepak bola setiap harinya. “Itu berdasarkan pengamatan para peneliti pertanian. Jadi lahan pertanian kita akan semakin terus berkurang. Ini jadi problem kita semua, ” ujarnya.

    Sementara itu, narasumber lainnya, praktisi peternakan yang juga Kepala BPPT Unggas Jawa Barat, Ahmad Gufron mengatakan bicara tentang pertanian dan peternakan idealnya bergerak karena dua pendekatan yakni struktural dan kultural. Yang terjadi di lapangan, biasanya hanya struktural, yakni membangun kelompok sesuai ketentuan-ketentuan administratif tanpa membangun kultural melalui bimbingan dan pendampingan yang intensif.

    “Paradigma lama, biasanya akan muncul kelompok-kelompok pertanian dadakan ketika ada program bantuan mau turun. Tapi fakta di lapangan itu jarang berhasil. Seperti yang tadi diungkapkan oleh pak Profesor, ” ucapnya.

    Ahmad Gufron menambahkan, justru keberhasilan para petani di lapangan yang betul-betul berhasil, nyatanya adalah para petani yang berangkat dari kesadaran dan melakukan pendekatan kultural. Konsep Pertanian berkelanjutan di Indonesia yang paling  benar, nyatanya telah dilakukan oleh para orangtua zaman dulu yang saat ini masih diterapkan oleh orang orang Baduy.

    ” Jadi jika mau belajar tentang integrasi pertanian dan peternakan yang berkelanjutan kita harus belajar ke orang Baduy. Tidak perlu jauh jauh belajar ke negara luar, ” ucapnya.

    Akan tergolong berkelanjutan, masih kata Ahmad Gufron, jika mampu mengiris tiga kepentingan yaitu kepentingan ekonomi, ekologi dan sosial. Dalam Menghadapi perubahan lingkungan, yang salah satunya disebabkan oleh dampak perubahan iklim, maka pemilihan varietas/strain yang resilien serta penerapan teknologi pertanian yang berkelanjutan adalah langkah tepat selain beberpaa langkah lainnya.

    Selain itu, Gufron menambahkan, pertanian yang terintegrasi merupakan upaya untuk mewujudkan kemandirian petani, dalam usahanya melalui model ekonomi sirkular, yaitu suatu model pertanian yang memperpanjang fungsi sumberdaya, meminimalisasi by product/limbah dengan diolah menjadi input bagi kegiatan ekonomi utama, atau menjadi input baru untuk kegiatan ekonomi yang lain. Secara  berkesinambungan akan imembentuk close loof dalam usahanya.

    Tambahan narasumber lain, praktisi alpukat, Ajis mengatakan prosfek menanam alpukat cukup prestisius. Tahun lalu saja, secara keseluruhannya, konsumsi alpukat masyarakat Indonesia masih kekurangan sekitar 20 persen dari kebutuhan. Sementara mayoritas alpukat itu diimpor dari negara luar, salah satunya Australia. Padahal alpukat lokal itu lebih enak dan lebih murah. Ada produk alpukat dari Bandung dengan kualitas super, nyatanya di Malaysia dikembangkan jadi pertanian besar.

    Peserta diskusi lainnya mengkritik tentang sikap pemerintah, terutama dinas dan OPD terkait, tentang minimnya respon pembinaan yang betul-betul berpihak kepada para petani dan kelompok tani.

    Dalam diskusi Ngawangkong Pangan ini juga hadir perwakilan dari Dinas Pertanian, pensiunan pejabat pertanian, para seniman juga Camat Palasah. Pensiunan tersebut menyarankan agar wilayah An-Nabawie di Majasuka Kecamatan Palasah dijadikan wisata pertanian. ****

    Berita Lainnya

    spot_img

    Related Stories