CIAYUMAJAKUNING.ID – Dampak cuaca ekstrem kembali menguji ketahanan infrastruktur di Cirebon. Jembatan dan akses jalan di Lebakngok, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon mengalami kerusakan cukup serius akibat tergerus arus air, memicu kekhawatiran warga atas potensi terputusnya mobilitas dan aktivitas ekonomi.
Pemerintah Kota Cirebon menyatakan komitmennya untuk memprioritaskan keamanan mobilitas warga. Namun di tengah janji percepatan perbaikan, publik juga menanti langkah konkret dan solusi jangka panjang agar kerusakan serupa tak terus berulang setiap musim hujan.
Wali Kota Cirebon Effendi Edo, turun langsung ke lokasi bersama unsur Forkopimda dan perangkat daerah terkait untuk memetakan kondisi lapangan dan menyusun strategi penanganan darurat.
Menurutnya, pengerjaan fisik akan dimulai Jumat (27/2/2026) dengan target beberapa minggu ke depan akses bisa kembali normal.
“Kami bersama Kapolres dan Kepala BBWS meninjau jembatan di Lebakngok yang sudah terkikis air. Insya Allah mulai Jumat kami bekerja. Targetnya beberapa minggu ke depan jalan ini sudah bisa normal kembali,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Ia menegaskan, jembatan tersebut merupakan urat nadi warga sekitar. Tanpa akses itu, distribusi barang, aktivitas kerja, hingga layanan dasar masyarakat ikut terdampak.
Namun untuk sementara, kendaraan roda empat belum dapat melintas. Hanya sepeda motor yang masih diizinkan lewat dengan pengawasan.
Penanganan dilakukan bersama BBWS Cimanuk Cisanggarung. Kepala BBWS, Dwi Agus Kuncoro, menjelaskan bahwa akar persoalan bukan hanya pada struktur jembatan, tetapi juga pola alur sungai yang pecah dan langsung menghantam tebing serta kaki jembatan.
Langkah awal yang diambil adalah normalisasi alur sungai dan pembangunan tanggul darurat untuk mengarahkan arus air agar tidak kembali menggerus struktur jalan.
“Kami luruskan dulu alurnya dan buat tanggul darurat. Jika terjadi banjir lagi, air sudah terarah dan tidak lagi menghantam tebing sungai sebelah kanan,” jelas Dwi.
Ia juga menyoroti kondisi geologi wilayah tersebut yang didominasi tanah batulempung—jenis tanah yang mudah tererosi saat debit air meningkat.
Untuk memperkuat kaki jembatan, BBWS akan menggunakan teknik riprap atau penataan batu alam sebagai perlindungan tambahan.
Normalisasi sungai ditargetkan rampung dalam dua bulan, sebelum penguatan struktur pilar dilakukan secara bertahap.
Meski respons cepat patut diapresiasi, kerusakan ini kembali memunculkan pertanyaan klasik: apakah sistem mitigasi dan perencanaan infrastruktur di wilayah rawan erosi sudah benar-benar berbasis risiko.
Lebakngok dan Argasunya bukan wilayah baru terdampak limpasan air saat curah hujan tinggi. Jika setiap musim hujan memicu kerusakan serupa, maka pendekatan tambal sulam berpotensi menjadi pola berulang yang menguras anggaran.
Pemerintah Kota Cirebon menyebut koordinasi intensif akan terus dilakukan hingga pekerjaan tuntas pada Maret atau April mendatang.
Namun masyarakat berharap bukan hanya normalisasi sementara, melainkan penguatan desain jangka panjang yang adaptif terhadap perubahan cuaca ekstrem.
Sebab bagi warga, jembatan Lebakngok bukan sekadar infrastruktur, melainkan penghubung kehidupan sehari-hari. Ketika akses terputus, yang terhenti bukan hanya kendaraan—tetapi juga roda ekonomi.



