CIAYUMAJAKUNING.ID: Menjelang arus mudik Lebaran 2026, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 3 Cirebon memperkuat sistem pengelolaan lingkungan di area stasiun, khususnya dalam penanganan sampah di Stasiun Cirebon.
Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan volume sampah akibat meningkatnya mobilitas penumpang selama musim mudik.
Upaya tersebut mendapat perhatian langsung dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, turun langsung meninjau kesiapan pengelolaan sampah di Stasiun Cirebon.
Menurut Diaz, masa mudik selalu identik dengan peningkatan aktivitas masyarakat yang berpotensi memicu akumulasi sampah dalam jumlah besar, sehingga diperlukan sistem pengelolaan yang lebih terencana.
“Kami dari KLH ingin fokus pada pengolahan sampah, karena saat mudik pasti akan ada akumulasi sampah yang lebih banyak,” ujar Diaz saat melakukan kunjungan ke Stasiun Cirebon.
Dalam peninjauan tersebut, Diaz mengapresiasi peningkatan fasilitas pengelolaan sampah yang telah disiapkan KAI Daop 3 Cirebon. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pembangunan gedung pemilahan sampah berukuran 30 x 6 meter yang digunakan untuk memilah sampah sebelum dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Menurutnya, fasilitas tersebut menunjukkan kemajuan nyata dibandingkan sistem sebelumnya.
“Sekarang sudah ada fasilitas gedung untuk pemilahan sampah. Kami juga berdiskusi bagaimana pengelolaan sampah di sini bisa lebih optimal,” katanya.
Diaz menjelaskan, karakteristik sampah di kawasan stasiun didominasi sampah anorganik seperti botol plastik, kemasan makanan, dan bahan sekali pakai lainnya.
Karena itu, KLH mendorong kolaborasi dengan bank sampah di wilayah Cirebon agar sampah bernilai ekonomi dapat dimanfaatkan kembali.
“Untuk sampah yang masih punya nilai tinggi bisa diambil oleh bank sampah, sedangkan yang nilai ekonominya rendah baru dibawa ke TPA,” jelasnya.
Langkah tersebut juga dinilai penting untuk membantu mengurangi beban TPA milik Pemerintah Kota Cirebon yang saat ini sedang berproses beralih dari sistem open dumping menuju sanitary landfill, sebagai bagian dari pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan.
Selain meninjau pengelolaan sampah, Wakil Menteri Lingkungan Hidup juga melihat fasilitas Drinking Water Station atau dispenser air minum gratis yang tersedia di beberapa stasiun wilayah Daop 3 Cirebon, termasuk di Stasiun Cirebon.
Fasilitas ini memungkinkan penumpang mengisi ulang air minum menggunakan tumbler pribadi.
“Kalau masyarakat membawa tumbler milik pribadi, nanti bisa mengisi air minum secara gratis sehingga mengurangi sampah plastik,” ujar Diaz.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menegaskan bahwa pengelolaan sampah merupakan bagian dari peningkatan kualitas layanan kepada pelanggan, dengan menekankan aspek kebersihan, kesehatan, dan kenyamanan.
“Kami ingin stasiun menjadi ruang publik dengan pengelolaan sampah yang ideal sehingga bisa menjadi contoh bagi ruang publik lainnya,” ungkap Bobby.
Menurutnya, komitmen ini tidak hanya untuk menjaga kenyamanan pelanggan, tetapi juga mendukung pengelolaan lingkungan berkelanjutan di kawasan transportasi publik.
KAI Daop 3 Cirebon juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga kebersihan stasiun dengan membuang sampah sesuai jenisnya, yakni organik, anorganik, dan B3, serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Penggunaan alat makan berulang dan tumbler pribadi menjadi salah satu langkah sederhana yang didorong selama periode mudik.
Dengan berbagai upaya tersebut, Stasiun Cirebon diharapkan dapat menjadi contoh pengelolaan lingkungan yang baik di ruang publik, khususnya dalam mendukung transportasi yang lebih bersih dan berkelanjutan.



