spot_img
Minggu, Mei 3, 2026
More

    Menengok Sentra Anyaman Bambu Pagar Gunung di Cirebon

    CIAYUMAJAKUNING.ID – Kala itu, suara gesekan bambu berpadu dengan canda ringan warga mengiasi siang hari di Blok Pagar Gunung, Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon.

    Di sudut rumah-rumah sederhana tersebut, bambu menjadi denyut ekonomi, warisan budaya sekaligus harapan yang terjaga selama puluhan tahun.

    Hampir semua rumah, dengan gesit, para perajin duduk bersila sambil menganyam bambu seolah mereka hafal betul jalur anyamannya.

    Setiap bilah bambu tipis di sisipkan satu per satu, membentuk bakul berbagai ukuran.

    Dari yang kecil hingga besar, dari yang sederhana hingga lebih rapat dan kuat.

    Atika (43), warga setempat mengatakan, aktivitas ini telah ia lakukan sejak kecil, tepatnya saat duduk di bangku kelas 3 SD.

    “Dari kecil sudah di ajarkan orang tua. Mulai dari meraut sampai menganyam,” tuturnya sambil menganyam, Senin (27/04).

    Atika mengaku, dalam sehari, ia mampu membuat sekitar empat bakul setengah jadi.

    Untuk tahap akhir, jumlahnya bisa mencapai 20 bakul, tergantung tingkat kerumitan.

    Bambu yang di gunakan berasal dari sekitar desa dengan jenis bambu tali dan bambu surat sebagai bahan utama.

    Ketersediaan bahan baku yang melimpah inilah yang mendorong warga mengembangkan kerajinan.

    Namun demikian, Atika masih ingat betul masa-masa sulit ketika permintaan menurun drastis.

    Penjualan tersendat, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.

    Kini ia kembali merasakan sedikit angin segar karena permintaan mulai kembali stabil.

    Bakul hasil anyaman di jual dengan harga relatif terjangkau berkisar Rp12 ribu hingga Rp14 ribu per buah.

    Kini, selain di jual ke pasar tradisional, para perajin juga terbantu dengan kehadiran pengepul yang datang langsung.

    Kadus Desa Cipanas Rizal mengaku kerajinan anyaman bambu di wilayahnya telah ada sejak pascakemerdekaan Indonesia.

    “Dulu, karena bambu di sini melimpah, masyarakat mulai mengolahnya jadi bakul. Lama-lama jadi mata pencaharian utama,” jelasnya.

    Saat ini, ratusan KK di Blok Pagar Gunung masih menggantungkan hidup dari anyaman bambu.

    Produk mereka pun telah di pasarkan ke berbagai daerah di Jawa Barat.

    Di tengah maraknya produk modern berbahan plastik, eksistensi anyaman bambu menghadapi tantangan tersendiri.

    Persaingan harga dan perubahan selera pasar menjadi ujian yang harus di hadapi para perajin.

    Rizal berharap potensi besar yang di miliki kampungnya bisa mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah.

    Ia membayangkan Blok Pagar Gunung berkembang menjadi sentra kerajinan sekaligus destinasi wisata edukasi.

    “Kami ingin tempat ini di kenal lebih luas. Kalau bisa jadi sentra atau destinasi kerajinan yang tentunya akan membantu ekonomi warga,” harap Rizal. ***

    Berita Lainnya

    spot_img

    Related Stories