CIAYUMAJAKUNING.ID – Wakil Bupati Cirebon Agus Kurniawan Budiman (Jigus) menginstruksikan seluruh camat di Kabupaten Cirebon segera memetakan persoalan sampah, PJU, rutilahu, hingga jaringan gas rumah tangga.
Langkah ini di ambil sebagai dasar percepatan pelaksanaan program Pemkab Cirebon.
Arahan tersebut di sampaikan saat rakor bersama para camat di kantor Setda Kabupaten Cirebon, Rabu (01/07).
Menurutnya, penanganan sampah menjadi salah satu prioritas sehingga setiap camat harus memiliki data riil kondisi wilayahnya.
Mulai dari titik sampah liar, fasilitas pengelolaan sampah, hingga desa yang telah bekerja sama dengan DLH.
“Jangan sampai nanti terjadi lagi sampah liar. Sampaikan posisi titik sampah liar di wilayah masing-masing kepada DLH agar penanganannya tepat sasaran,” kata Jigus.
Berdasarkan data sementara terdapat sekitar 40 hingga 50 titik sampah liar di Kabupaten Cirebon.
Jumlah tersebut di perkirakan masih bertambah setelah seluruh kecamatan melakukan pendataan secara menyeluruh.
Sementara itu, produksi sampah di Kabupaten Cirebon di perkirakan mencapai sekitar 1.200 ton per hari.
Selain itu, ia meminta camat mendata keberadaan TPST, TPS 3R serta desa yang telah menandatangani nota kesepahaman pengelolaan sampah dengan DLH.
Jigus juga mendorong camat memanfaatkan potensi CSR untuk mendukung penyediaan sarana pengelolaan sampah.
“Presentasikan kebutuhannya sehingga CSR bisa membantu penyelesaian persoalan sampah,” ujarnya.
Selain itu, Jigus meminta camat melakukan pemetaan kondisi PJU sesuai kewenangan jalan kabupaten, provinsi, pusat maupun desa.
Pendataan juga di lakukan terhadap rutilahu yang saat ini tercatat sekitar 12 ribu unit.
Serta pengembangan jaringan gas rumah tangga sebagai dasar penyusunan program pembangunan.
Fokus pemda saat ini mengoptimalkan Program Kampung Bersih dengan mengaktifkan kembali TPS 3R.
“Karena itu perlu kehadiran dan dukungan semua pihak termasuk camat dan pemdes,” kata Sekda Kabupaten Cirebon Hendra Nirmala.
Sementara itu, beberapa wilayah seperti Ciwaringin, Gempol, Kapetakan, Suranenggala, dan Susukan masih memiliki volume sampah liar yang tinggi.
Ia pun menilai wilayah-wilayah tersebut perlu penanganan yang lebih intensif. ***



