CIAYUMAJAKUNING.ID: Di bawah langit mendung dan tanah yang masih basah oleh sisa hujan, ratusan warga Desa Kalianyar, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, menunjukkan satu hal yang tak tergoyahkan: kepedulian terhadap kesehatan lingkungan.
Sejak Senin pagi (26/1/2026) sekitar pukul 07.30 WIB, warga dari berbagai unsur turun langsung menyusuri jalan-jalan desa. Mereka tak sekadar memungut sampah, tetapi membawa semangat gotong royong untuk menghalau ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) yang kerap meningkat di musim hujan.
Kegiatan bersih-bersih lingkungan itu diawali dengan apel pagi di ruang terbuka desa Kalianyar Kabupaten Cirebon. Meski permukaan tanah masih licin dan udara terasa lembap, peserta tetap berbaris rapi.
Kaos olahraga merah mendominasi barisan, berpadu dengan seragam dinas cokelat perangkat desa, kerudung pink ibu-ibu PKK, serta kehadiran aparat TNI dan Polri yang turut membaur.
Suasana kian hidup ketika yel-yel “Kalianyar… Juara!” menggema dan dijawab serempak. Energi kebersamaan terasa kuat—sebuah potret desa yang bergerak bersama, tanpa sekat.
Kuwu Kalianyar, Abdul Nasir, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan ikhtiar nyata menjaga kesehatan warga.
“Lingkungan yang bersih bukan hanya membuat desa terlihat indah dan tertata, tetapi juga menjauhkan kita dari penyakit. Insya Allah, kalau lingkungan bersih, hidup kita jadi lebih sehat,” ujar Nasir.
Ancaman DBD, kata dia, bukan sekadar data atau isu jauh. Warga Kalianyar telah merasakannya secara langsung.
“Sekarang musim hujan, biasanya DBD mulai muncul. Bahkan minggu kemarin, di lingkungan keluarga kami sendiri ada yang terkena DBD sampai harus dirawat di Rumah Sakit Sumber Waras,” ungkapnya.
Lebih jauh, Nasir mengaitkan kebersihan lingkungan dengan ketahanan ekonomi warga.
“Kalau kita sehat, kita tidak perlu ke rumah sakit. Artinya, kita juga tidak perlu mengeluarkan biaya berobat. Kebersihan itu investasi,” katanya.
Berdasarkan daftar hadir, sekitar 139 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari Pemerintah Kecamatan Panguragan, perangkat desa, BPD, LPM, Karang Taruna, MUI Desa, RT/RW, Linmas, PKK, hingga kader Posyandu.
Pelaksana Tugas (Plt) Camat Panguragan, Tedy Tri Susilo, yang turut hadir, menekankan pentingnya menghidupkan kembali semangat swadaya masyarakat di tengah keterbatasan anggaran desa.
“Di samping tetap semangat membangun desa, kami berharap masyarakat dan lembaga desa bisa kembali menumbuhkan jiwa swadaya,” ujar Tedy.
Ia mengakui, keberadaan Dana Desa dalam beberapa tahun terakhir turut mengubah pola pikir sebagian warga.
“Kadang muncul persepsi ‘desa itu banyak uang’. Akhirnya, setiap kegiatan selalu dikaitkan dengan upah atau bayaran. Padahal semangat gotong royong itu fondasi desa,” katanya.
Menurut Tedy, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Kalianyar, tetapi juga di desa-desa lain di Kecamatan Panguragan. Tantangan itu kian terasa karena anggaran Dana Desa tahun 2026 mengalami penurunan signifikan.
“Sekarang anggaran desa hanya sekitar sepertiga dari tahun sebelumnya. Ini tantangan besar yang harus dihadapi bersama,” jelasnya.
Usai apel, seluruh peserta langsung bergerak membersihkan lingkungan. Sampah dipungut, genangan air diperiksa, dan titik-titik yang berpotensi menjadi sarang nyamuk dibersihkan secara gotong royong.
Ke depan, Pemerintah Desa Kalianyar berkomitmen menjadikan kegiatan apel dan bersih-bersih lingkungan sebagai agenda rutin.
“Kami ingin kegiatan ini berkelanjutan, bisa sebulan sekali atau minimal enam bulan sekali, menyesuaikan kondisi,” kata Abdul Nasir.
Meski anggaran Dana Desa tahun 2026 turun drastis dari sekitar Rp900 juta menjadi Rp350 jutaan, Nasir menegaskan semangat membangun desa tidak akan luntur.
“Penurunan anggaran jangan sampai mematahkan semangat. Pendidikan, keagamaan, olahraga, semua tetap jadi prioritas. Kami akan optimis mencari sumber anggaran lain, baik dari Pokir, BUMDes, maupun sumber lainnya,” ujarnya.
Sebagai penguat, Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon mencatat peningkatan kasus DBD sepanjang awal 2025, dengan total sekitar 285 kasus dari Januari hingga pertengahan April. Rinciannya, Januari 69 kasus, Februari 75 kasus, Maret 118 kasus, dan hingga pertengahan April tercatat 23 kasus.
Data tersebut menjadi pengingat bahwa gerakan menjaga kebersihan lingkungan, sekecil apa pun, memiliki dampak besar—terutama ketika dimulai dari desa, oleh warga, dan untuk kesehatan bersama.


