spot_img
Rabu, April 22, 2026
More

    Bupati Kuningan Hadiri Hajat Bumi di Astana Desa Cikeleng Japara

    CIAYUMAJAKUNING.IDPemakaman Manangga (Astana Desa Cikeleng), Kecamatan Japara, Kabupaten Kuningan menggelar tradisi Hajat Bumi, Kamis (16/04).

    Suasana khidmat menyelimuti di tengah nuansa religius dan budaya yang kental.

    Warga berkumpul membawa hasil bumi sebagai simbol rasa syukur sekaligus penghormatan kepada para leluhur.

    Hajat Bumi menjadi ruang pertemuan antara nilai spiritual, budaya dan kehidupan sosial masyarakat.

    Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar yang turut hadir menegaskan Hajat Bumi merupakan cerminan kearifan lokal yang bermakna dalam.

    Ia menilai tradisi ini mengandung pesan penting tentang hubungan harmonis antara manusia, alam dan Sang Pencipta.

    Bupati juga mengajak masyarakat untuk menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.

    “Tradisi ini mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam. Apa yang kita jaga hari ini akan menentukan kehidupan kita ke depan,” ujarnya.

    Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyampaikan pihaknya akan memperbaiki ruas jalan yang menghubungkan Wano, Cikeleng hingga Cengal.

    Ruas jalan sepanjang 4,7 kilometer itu merupakan akses vital bagi mobilitas warga serta distribusi hasil pertanian.

    Ia mengingatkan pembangunan fisik juga harus di iringi dengan kesadaran menjaga lingkungan.

    Permasalahan sampah menjadi perhatian serius terutama yang di buang ke aliran sungai dan saluran air.

    “Mari kita jaga bersama lingkungan kita agar manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih lama,” tegasnya.

    Sebagai bentuk dukungan, bantuan material juga di serahkan guna menunjang perbaikan sarana lingkungan desa, termasuk fasilitas makam.

    Sementara itu, Kuwu Cikeleng Rukmana menjelaskan Hajat Bumi merupakan bagian dari identitas desa yang harus terus di jaga.

    Tradisi ini di gelar sebagai ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus doa bersama untuk keberkahan dan kesejahteraan masyarakat.

    Berbagai hasil bumi di tampilkan dalam prosesi yang memiliki makna filosofis.

    Mulai dari simbol persatuan, kemakmuran hingga ketekunan dalam bekerja.

    Kuwu Rukmana menjelaskan cau saturuy (setandan pisang) melambangkan persatuan dan kebersamaan masyarakat.

    Sementara itu, pare sapocong (seikat padi) menjadi simbol kebutuhan pokok sekaligus harapan akan kemakmuran dan kesejahteraan yang merata.

    Kelapa di maknai sebagai simbol cita-cita luhur sementara beubeutian (umbi-umbian) menggambarkan pentingnya kerja keras dan ketekunan.

    Selain itu, waluh (labu) di maknai sebagai simbol stabilitas dan keamanan sementara lauk cucut menjadi simbol ketahanan dan kemampuan bertahan hidup.

    Seluruh simbol tersebut merupakan nilai-nilai yang perlu di resapi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. ***

    Berita Lainnya

    spot_img

    Related Stories