Connect with us

Umum

Apa Itu Agama Baha’i Hingga Menag Berikan Ucapan

Published

on

Ciayumajakuning.id

CIAYUMAJAKUNING.ID – Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas menjadi perbincangan hangat netizen disejumlah platform media sosial terutama twitter. Pasalnya Yaqut secara langsung menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Naw-Ruz 178 EB kepada pemeluk agama Baha’i.

Ramainya perbincangan netizen, tidak sedikit juga masyarakat mempertanyakan agama Baha’i yang berasal dari Iran tersebut.

Dilansir dari wikipedia, agama Baha’i merupakan agama monoteistik yang menekankan pada kesatuan spiritual bagi seluruh umat manusia. Agama Bahá’í lahir di Persia (sekarang Iran) pada tahun 1863. Pendirinya bernama Mírzá Ḥusayn-`Alí Núrí yang bergelar Bahá’u’lláh (kemuliaan Tuhan, kemuliaan Alláh). Bahá’í awalnya berkembang secara terbatas di Persia dan beberapa daerah lain di Timur Tengah yang pada saat itu merupakan wilayah kekuasaan Turki Usmani. Sejak awal kemunculannya, komunitas Bahá’í Timur Tengah khususnya di Persia menghadapi persekusi dan diskriminasi yang berkelanjutan. Pada awal abad kedua puluh satu, penganutnya mencapai lima hingga delapan juta jiwa yang berdiam di lebih dari dua ratus negara dan teritori di seluruh dunia.

Dalam ajaran Bahá’í, sejarah keagamaan dipandang sebagai suatu proses pendidikan bagi umat manusia melalui para utusan Tuhan yang disebut para “Perwujudan Tuhan”. Bahá’u’lláh dianggap sebagai Perwujudan Tuhan yang terbaru. Dia mengaku sebagai pendidik Ilahi yang telah dijanjikan bagi semua umat dan yang dinubuatkan dalam agama KristenIslamBuddha, dan agama-agama lainnya. Dia menyatakan bahwa misinya adalah untuk meletakkan fondasi bagi persatuan seluruh dunia, serta memulai suatu zaman perdamaian dan keadilan, yang dipercayai umat Bahá’í pasti akan datang.

Yang menjadi dasar ajaran Bahá’í adalah asas-asas keesaan Tuhan, kesatuan agama, dan persatuan umat manusia. Pengaruh dari asas-asas hakiki ini dapat dilihat pada semua ajaran kerohanian dan sosial lainnya dalam agama Bahá’í. Misalnya, orang-orang Bahá’í tidak menganggap “persatuan” sebagai suatu tujuan akhir yang hanya akan dicapai setelah banyak masalah lainnya diselesaikan lebih dahulu, tetapi sebaliknya mereka memandang persatuan sebagai langkah pertama untuk memecahkan masalah-masalah itu. Hal ini tampak dalam ajaran sosial Bahá’í yang menganjurkan agar semua masalah masyarakat diselesaikan melalui proses musyawarah. Sebagaimana dinyatakan Bahá’u’lláh: “Begitu kuatnya cahaya persatuan, sehingga dapat menerangi seluruh bumi.” Iman Baha’i adalah agama Abrahamik.

Advertisement

Ramainya pembahasan tersebut setelah akun youtube Baha’i Indonesia memposting ucapan dari Menteri Agama pada tanggal 26 Maret yang lalu.

Continue Reading

Yang Lagi Trend