https://ciayumajakuning.id
No Result
View All Result
Sabtu, 18 Juli 2026
  • Umum
  • Seni & Budaya
  • Pariwisata
  • Ekbis
  • Teknologi
  • Lifestyle
  • Umkm
Informasi Seputar Cirebon Raya
No Result
View All Result
Home Umum

Budidaya Maggot Jadi Cara Kades di Kuningan Atasi Masalah Sampah

by Bastian
11 Januari 2022
in Umum
Budidaya Maggot Jadi Cara Kades di Kuningan Atasi Masalah Sampah

KUNINGAN, CIAYUMAJAKUNING.ID – Upaya untuk mengatasi persoalan sampah membuat banyak kepala desa di Kabupaten Kuningan mulai menggeluti usaha budidaya maggot.

Diawali dengan keberhasilan Desa Kertayasa, Kecamatan Sindang Agung dalam menangani sampah melalui budidaya maggot, puluhan Kades di Kuningan ini kini serius untuk bisa belajar budidaya maggot.

BacaJuga

Sekda Herman: 424 Pejabat Pemprov Jabar Turun Langsung ke Sekolah pada MPLS

Bacakan Amanat KDM, Dedi Supandi Tekankan MPLS Bukan Sekadar Hari Pertama Sekolah

UGJ Gelar Rangkaian Dies Natalis FK ke-18 Dorong Peningkatan Kinerja Tri Dharma

Aktivitas Dapur MBG Serap Ribuan Tenaga Kerja, Aksi Damai di Majalengka Dukung Penuh Program Unggulan Ini

Setidaknya ada 24 Kades di Kecamatan Ciawigebang membawa serta pengurus BUMDes dan perwakilan masyarakat untuk mengikuti pelatihan budidaya maggot di Aula Kantor Kecamatan.

Dihadiri Anggota DPRD Jawa Barat Tina Wiryawati, para Kades tampak antusias mengikuti pelatihan yang diberikan oleh Arif Amarudin selaku Kades Kertayasa dan Sulistio IPAC penggiat pertanian organik.

Pada pelatihan itu Arif mengatakan untuk mengatasi masalah sampah yang paling penting ialah harus mengubah pola pikir masyarakat dalam melihat sampah yang bisa dijadikan sebagai sumber ekonomi.

“Di desa kami warga berebut sampah. Karena pandangan mereka sampah ini adalah uang. Sampah organik bisa jadi pakan maggot dan sampah anorganik bisa dijual di bank sampah, bahkan bisa jadi emas batangan,” kata Arif.

Menurutnya perubahan pola pikir masyarakat ini memang tidak bisa dilakukan dengan cepat. Namun yang paling penting adalah dengan menunjukan jika sampah bisa jadi sumber penghasilan keluarga.

“Cara budidaya maggot pun mudah sekali, dan maggot ini mulai telur, larva, pre-pupa, lupa hingga lalat dewasa sangat mahal harganya. Bahkan bekas maggot yang berbentuk tanah pun sangat baik digunakan untuk media tanam pertanian, ” ujarnya.

Sementara itu Sulistio IPAC menambahkan, pakan maggot ini adalah semua jenis sampah organik. Maggot biasanya menghisap makanan dari sampah yang telah dicacah dan terurai seperti bubur.

“Untuk membantu mempercepat penguraian pakan maggot ini bisa disemprot cairan tertentu yang mengandung EM4,” jelas Tio.

Budidaya maggot selain bisa membantu pengurangan tumpukan sampah sehingga membantu perbaikan lingkungan, juga menambah penghasilan.

“Selain sampah organik, sampah anorganik pun jelas bernilai ekonomi. Bisa dijadikan daur ulang untuk berbagai macam bentuk kebutuhan,” ucapnya.

Ditempat yang sama Anggota DPRD Jabar Tina Wiryawati mengungkapkan persoalan sampah di berbagai daerah tidak pernah ada habisnya. Upaya yang dilakukan dinas terkait sejauh ini kata dia belum ada solusi untuk menangani sampah.

“Pembuatan tempat pembuangan sampah sementara, hingga upaya pengambilan sampah oleh kendaraan operasional Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kuningan sudah dilakukan,” ujar Tina.

Hingga akhirnya puluhan kepala desa di Kabupaten Kuningan tertarik pada sebuah solusi tepat dalam menangani masalah sampah, yakni budidaya maggot.

“Diawali dengan kesuksesan Desa Kertayasa, Kecamatan Sindang agung dalam menangani sampah melalui budidaya maggot, puluhan kades di Kuningan ini kini serius untuk bisa belajar budidaya maggot,” terangnya.

Bahkan belum lama, tercatat ada 24 kepala desa di Kecamatan Ciawigebang mengikuti pelatihan budidaya maggot. Usai itu, Tina kembali mengadakan pelatihan serupa di Desa Kertayasa, Kecamatan Sindangagung, Kuningan.

“Kita berharap melalui budidaya maggot ini, menjadi salah satu solusi dalam mengatasi persoalan sampah. Namun BUMDes juga perlu diikutsertakan, karena BUMDes adalah lembaga yang diharapkan bisa membantu dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Tina.

Menurutnya, sampah organik yang diolah bisa menghasilkan maggot dengan nilai jual cukup menjanjikan. Bahkan sampah bekas maggot akibat tidak habis terurai, bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk pertanian.

“Jadi maggotnya bisa dijual dan menghasilkan cuan, lalu sisa-sisa sampah dari bekas maggot ini dapat menjadi pupuk kompos. Sehingga jelas menguntungkan, selain mengatasi persoalan sampah, kemudian sampah yang diolah menjadi maggot ini bisa menghasilkan pendapatan bagi masyarakat,” tandasnya.

Tags: KuninganMaggotTina Wiryawati

Related Posts

Sekda Herman: 424 Pejabat Pemprov Jabar Turun Langsung ke Sekolah pada MPLS

15 Juli 2026

Bacakan Amanat KDM, Dedi Supandi Tekankan MPLS Bukan Sekadar Hari Pertama Sekolah

15 Juli 2026

UGJ Gelar Rangkaian Dies Natalis FK ke-18 Dorong Peningkatan Kinerja Tri Dharma

11 Juli 2026
Aktivitas Dapur MBG Serap Ribuan Tenaga Kerja, Aksi Damai di Majalengka Dukung Penuh Program Unggulan Ini

Aktivitas Dapur MBG Serap Ribuan Tenaga Kerja, Aksi Damai di Majalengka Dukung Penuh Program Unggulan Ini

9 Juli 2026
Satpol PP Kabupaten Cirebon Sita 149.600 Batang Rokok Ilegal

Satpol PP Kabupaten Cirebon Sita 149.600 Batang Rokok Ilegal

6 Juli 2026
Kuningan Ketiban Rezeki Gegara Sampah dan Rokok Ilegal

Pemkab Dorong DMI Kuningan Wujudkan Masjid Ramah Anak

4 Juli 2026

Redaksi | Tentang Kami | Pedoman Media Siber

Partner

© 2026 ciayumajakuning.id - PT. Sonde Mitra Utama
No Result
View All Result
  • Umum
  • Seni & Budaya
  • Pariwisata
  • Ekbis
  • Teknologi
  • Lifestyle
  • Umkm

© 2020 ciayumajakuning.id