CIAYUMAJAKUNING.ID – Kadiskatan Kuningan Wahyu Hidayah membedah strategi penguatan pangan Kabupaten Kuningan secara daring dalam program TVRI Jabar ‘Dialog Jabar Hari Ini’, Sabtu (11/04) sore.
Bertempat di Command Center Diskominfo Kuningan, Wahyu memaparkan kondisi ketahanan pangan Kuningan berada dalam kategori kuat.
Hal ini di tunjukkan dengan capaian surplus beras yang mencapai lebih dari 120 ribu ton.
Hasil dari perbandingan produksi gabah kering giling dengan konsumsi masyarakat.
Dari luas baku sawah sekitar 26 ribu hektare, indeks pertanaman di Kuningan sudah mencapai 2,5 kali tanam dalam setahun.
“Artinya, sebagian besar lahan bisa di tanami hingga dua sampai tiga kali bahkan ada yang empat kali,” jelas Wahyu.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih di hadapi di antaranya alih fungsi lahan pertanian.
Pertumbuhan jumlah penduduk, rendahnya minat generasi muda di sektor pertanian dan dampak perubahan iklim.
Guna menjawab tantangan tersebut, pihaknya menerapkan berbagai strategi seperti peningkatan indeks pertanaman.
Yakni melalui pembangunan sarana irigasi penggunaan benih bersertifikat berumur genjah dan penerapan teknologi mekanisasi pertanian.
Selain itu, inovasi semai culik juga di terapkan guna mempercepat masa tanam setelah panen.
Diskatan juga melakukan demonstrasi plot (demplot) dengan penerapan teknik budidaya modern dan penggunaan pupuk organik cair.
Hasilnya, produktivitas padi yang semula rerata sekitar 6 ton per hektare meningkat hingga 9 ton bahkan mencapai 12 ton di beberapa lokasi.
Pemkab Kuningan juga melakukan program unggulan ‘Bernas’ (Benih untuk Rakyat) yakni petani mendapat bantuan benih minimal satu kali.
Program ini telah menjangkau sekitar 20 ribu hektare lahan dari total 26 ribu hektare sawah.
“Distribusi bantuan kami lakukan melalui kelompok tani dan di kawal langsung oleh penyuluh di lapangan,” jelasnya.
Bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) juga di nilai sangat membantu percepatan proses tanam dan panen.
Pada tahun 2025, bantuan alsintan dari pemerintah pusat mencapai nilai hampir Rp10 miliar.
Meliputi combine harvester, traktor, pompa air hingga alat panen lainnya.
“Pemanfaatan alsintan ini berdampak signifikan terhadap efisiensi biaya, percepatan tanam dan mengurangi kehilangan hasil panen,” jelas Wahyu. ***



