spot_img
Rabu, Juni 3, 2026
More

    Menelusuri Jejak Situs Batu Tulis Huludayeuh Dukupuntang Cirebon

    CIAYUMAJAKUNING.ID – Situs Batu Tulis Huludayeuh yang berada di hamparan sawah Desa Cikalahang, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, menyimpan jejak penting peninggalan kerajaan Sunda yang belum banyak di ketahui masyarakat.

    Dengan panaroma perbukitan, batu tulis bersejarah di Cikalahang itu memiliki tinggi sekitar 74 sentimeter dan lebar 36 sentimeter serta terukir tulisan dengan aksara kuno di tubuh batu.

    Kabarnya, Huludayeuh di sebut sebagai satu dari dua prasasti batu tulis peninggalan Kerajaan Sunda di Jawa Barat.

    Menurut juru kunci Situs Batu Tulis Huludayeuh Edi mengatakan batu prasasti tersebut pertama kali di temukan warga sekitar sekitar tahun 1930 di kawasan yang masih berupa hutan belantara.

    “Katanya ada pohon beringin tumbang, lalu di bawahnya di temukan batu ini,” katanya di lokasi situs.

    Namun penelitian terhadap situs baru di lakukan pada Februari 1991 dan di tetapkan sebagai cagar budaya.

    Berdasarkan keterangan para ahli, prasasti tersebut di buat atas perintah seorang raja bergelar Sri Maharaja Ratu Haji sebagai tanda peringatan atas pekerjaan-pekerjaan yang telah di laksanakan untuk kepentingan masyarakat.

    Keberadaan situs tersebut terbuka untuk umum tanpa di pungut biaya.

    “Kalau ada kunjungan, saya senang sekali. Pernah juga ada sekolah datang ke sini,” kata Edi.

    Situs Batu Tulis Huludayeuh di nilai berpotensi menjadi destinasi edukasi sejarah dan budaya Kabupaten Cirebon.

    Berdasarkan penuturan para sesepuh, kata ‘Hulu’ di artikan sebagai kepala atau pusat, sedangkan ‘Dayeuh’ berarti kota sehingga di yakini sebagai pusat pemerintahan pada masa lalu.

    Sementara itu, menurut arkeolog Hasan Djafar dalam jurnal Berkala Arkeologi Volume 14 (1994) berjudul Prasasti Huludayeuh yang di akses via kemdiktisaintek.go.id, peninggalan prasasti di Jabar jumlahnya masih jauh lebih sedikit di bandingkan Jateng dan Jatim.

    Dalam kajiannya, Hasan menyebut Prasasti Huludayeuh berkaitan dengan penghormatan terhadap jasa-jasa Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi yang juga di sebut dalam isi prasasti.

    “Raja yang disebutkan dalam prasasti Huludayeuh tersebut tidak lain ialah Ratu Purana Sri Baduga Sri Maharaja Ratu Haji ri Pakwan Sya San Ratu Dewata,” tulisnya.

    Prasasti tersebut kemungkinan di terbitkan oleh penerusnya yakni Raja Surawisesa yang memerintah pada 1521–1535.

    “Prasasti Huludayeuh ini isinya berkenaan dengan usaha memperingati jasa-jasa kebajikan Sri Baduga Maharaja, mungkin sekali prasasti ini tidak di keluarkan oleh Sri Baduga Maharaja,” tulis Hasan.

    Penelitian juga menyebut kondisi Prasasti Huludayeuh sudah tidak utuh.

    Sejumlah bagian batu telah patah dan aus, sehingga beberapa huruf dan kalimat sulit di baca. ***

    Berita Lainnya

    spot_img

    Related Stories