spot_img
Minggu, Mei 10, 2026
More

    IPM Majalengka Tertinggi di Ciayumajakuning, ATS Jadi Sorotan

    CIAYUMAJAKUNING.ID – Berdasarkan data terbaru tahun 2026, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Majalengka mencapai angka 71,37, meningkat sekitar satu poin jika di bandingkan tahun 2024.

    Hal itu di sampaikan Bupati Majalengka Eman Suherman saat bertindak sebagai pembina upacara pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).

    Ia menambahkan jika sektor pendidikan menjadi motor utama peningkatan IPM.

    “Capaian ini menempatkan Kabupaten Majalengka sebagai daerah dengan IPM tertinggi di Ciayumajakuning,” ujar Eman di Lapangan GGM Majalengka, Sabtu (02/05) pagi.

    Meski begitu, ia memberi catatan penting terkait masih tingginya angka Anak Tidak Sekolah (ATS).

    Tercatat sebanyak 10.374 anak belum mengenyam pendidikan formal pada tahun ajaran 2025/2026.

    “Saya instruksikan seluruh jajaran untuk memastikan ke depan tidak ada lagi anak-anak Majalengka yang tidak bersekolah,” tegasnya.

    Berikut capaian indikator pendidikan Kabupaten Majalengka tahun 2026:

    • Rata-rata Lama Sekolah (RLS): 7,81 (naik dari 7,53 pada 2024)
    • Angka Partisipasi Murni (APM) PAUD: 90,90%
    • APM SD/MI: 90,79%
    • APM SMP/MTs: 85,92%
    • dan Angka Partisipasi Kasar (APK): 44,19%.

    Kadisdik Majalengka M Umar Ma’ruf berkomitmen pun menindaklanjuti arahan Bupati terkait angka ATS.

    “Fokus kami tahun 2026 memperkuat sinergi lintas sektor melalui program jemput bola agar anak-anak yang putus sekolah bisa kembali mengakses pendidikan,” ujarnya.

    Ia juga menekankan pentingnya peran guru dan tenaga kependidikan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

    “Kualitas pendidikan harus terus di tingkatkan agar lulusan kita mampu bersaing di tingkat regional maupun nasional,” tambah Umar.

    Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Majalengka Iman Pramudiya menilai persoalan ATS harus di tangani secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.

    Menurutnya, penanganan ATS juga membutuhkan peran aktif masyarakat, dunia usaha hingga tokoh lokal.

    Iman menilai pendekatan jemput bola harus di perkuat dengan pendampingan sosial, termasuk memastikan faktor ekonomi, lingkungan, dan motivasi belajar anak.

    “Kami mendorong adanya gerakan bersama agar tidak ada lagi anak yang tertinggal dari akses pendidikan,” tegasnya.

    Dewan Pendidikan juga mendorong optimalisasi program pendidikan nonformal dan kesetaraan sebagai solusi alternatif. ***

    Berita Lainnya

    spot_img

    Related Stories