CIAYUMAJAKUNING.ID – Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menghadiri puncak upacara adat Seren Taun Tahun 1957 Saka di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kabupaten Kuningan, Minggu (07/06).
Hadir pula dalam upacara Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Kekayaan Intelektual Kementerian Kebudayaan RI I Made Dharma Suteja.
Serta Anggota DPRD Jabar Ika Siti Rahmatika dan Ketua DPRD Kuningan Nuzul Rachdy.
Menurut Bupati Kuningan Seren Taun bukan sekadar perayaan panen, melainkan sebuah perjalanan kehidupan yang mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam, sesama manusia dan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Ia menambahkan, di tengah arus perkembangan zaman yang semakin cepat, masyarakat tidak boleh kehilangan akar budaya yang menjadi identitas dan kekuatan bangsa.
“Pohon yang besar bukan hanya karena rantingnya menjulang tinggi, melainkan karena akarnya menghujam ke bumi. Begitu pula sebuah bangsa akan tetap tegak apabila mampu menjaga nilai-nilai budaya,” ungkap Bupati.
Ia juga menyampaikan kebanggaannya karena Seren Taun telah berkembang menjadi salah satu ikon budaya Kuningan yang di kenal hingga tingkat nasional bahkan internasional.
Bupati menyebut Seren Taun sebagai miniatur Indonesia yang menunjukkan bagaimana keberagaman dapat hidup berdampingan dalam suasana harmonis.
Masyarakat Cigugur telah memberikan teladan bahwa perbedaan keyakinan, budaya dan tradisi bukan menjadi tembok pemisah, melainkan jembatan persaudaraan.
“Tahun depan insyaallah Seren Taun akan menjadi bagian dari kalender budaya Kabupaten Kuningan dan akan kita dukung sebagai upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan sektor pariwisata daerah,” tambah Bupati.
Puncak Seren Taun 1957 Saka kian semarak dengan berbagai penampilan seni budaya yang merepresentasikan kekayaan tradisi Nusantara.
Hadirin di suguhkan Tari Puragabaya Gebang yang menampilkan semangat kepahlawanan dan kebudayaan Sunda, dilanjutkan pertunjukan Angklung Kanekes masyarakat Baduy dan Angklung Buncis yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat agraris Kuningan.
Selain itu, Tari Buyung turut memukau melalui gerakan yang menggambarkan kedekatan masyarakat Sunda dengan alam dan sumber kehidupan.
Penampilan spesial juga datang dari Pulau Dewata melalui Tari Rejang Renteng yang di bawakan oleh perempuan-perempuan yang telah menikah dalam jumlah ganjil.
Tarian sakral yang telah di akui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO tersebut menjadi simbol penghormatan, rasa syukur dan persembahan kepada Sang Pencipta.
Rangkaian prosesi adat turut menjadi inti pelaksanaan Seren Taun, mulai dari Helaran Memeron yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam arak-arakan budaya.
Ngajayak sebagai bentuk penyambutan dan penghormatan, Pangrajah yang sarat doa dan harapan keselamatan, hingga prosesi Penumbukan Padi sebagai simbol rasa syukur atas hasil bumi. ***



