https://ciayumajakuning.id
No Result
View All Result
Sabtu, 25 Juli 2026
  • Umum
  • Seni & Budaya
  • Pariwisata
  • Ekbis
  • Teknologi
  • Lifestyle
  • Umkm
Informasi Seputar Cirebon Raya
No Result
View All Result
Home Umum

Pecah Kongsi 4.0: Ketika Adu Domba Digital dan Identitas Mengancam Kebhinekaan

by Noer Panji
25 Juli 2026
in Umum

Ilustrasi Pecah Kongsi 4.0. Ilustrasi foto (Gemini AI)

Sebuah Prolog: Pecah Kongsi 4.0, dunia digital dan perpecahan

CIAYUMAJAKUNING.ID: Pecah Kongsi 4.0 atau dikenal dengan four point O merupakan gambaran ancaman nyata di era digital saat ini, dimana media penyalahgunaan media sosial dan teknologi dapat memicu polarisasi serta perpecahan sosial. Fenomena ini didorong atau di dasari oleh manipulasi informasi dan eksploitasi identitas yang dapat merusak sendi-sendi kebhinekaan yang ada di Indonesia.

BacaJuga

Ono Surono Dukung Sayembara Begal Dedi Mulyadi, Minta Penanganan Kejahatan Tak Berhenti di Hadiah

Wabup Cirebon: Sekolah Rakyat Terintegrasi Launching Akhir Juli

Dua Pimpinan Cirebon Power Raih Energy Executive Award 2026

Potret Ceria Siswa Peserta Dongeng Hemat Listrik Bersama Cirebon Power di Hari Anak Nasional 2026

Dulu, kita mengenal penjajah dengan seragam loreng, senjata api dan kapal perang yang berlabuh di pelabuhan Nusantara. Mereka datang membawa rantai dan tanam paksa, menguras kekayaan sekaligus merenggut martabat bangsa selama berabad-abad lamanya.

Namun nenek moyang kita dari Sabang sampai Merauke, dari suku Batak hingga suku Asmat tak pernah gentar menghadapi teror yang kasat mata itu. Mereka meleburkan perbedaan bahasa, adat dan keyakinan demi satu tujuan suci yang tak bisa ditawar yakni kemerdekaan. Kini, musuh itu tak lagi datang dengan bendera asing, melainkan melalui layar genggaman tangan kita sendiri yang setiap hari kita tatap tanpa curiga.

Penjajah gaya baru tidak memakai seragam, melainkan algoritma yang dirancang canggih untuk menguasai perhatian dan emosi kita dalam hitungan detik. Mereka tidak membawa meriam atau peluru, tetapi menyusun narasi kebencian, hoaks dan politik identitas yang diracik apik di ruang-ruang digital tanpa kita sadari. Musuh ini tidak terlihat mata, tapi dampaknya terasa sangat nyata di kehidupan sehari-hari: perpecahan antar warga, kecurigaan antar tetangga dan hilangnya rasa kebangsaan yang dulu begitu kental. Mereka memanfaatkan celah terbesar kita, yaitu keragaman yang selama ini kita banggakan dan mengubahnya dari anugerah menjadi bumerang yang saling melukai antar sesama anak bangsa. Inilah yang disebut sebagai disintegrasi gaya baru atau lebih tepatnya kita namakan Pecah Kongsi 4.0.

Adu Domba Digital Sebagai Senjata Utama

Salah satu senjata paling mematikan di era ini adalah adu domba digital yang merupakan versi modern dari strategi devide et impera yang dulu digunakan penjajah Eropa untuk menguasai wilayah jajahan. Konten provokatif yang mempertentangkan suku, agama, ras dan antargolongan disebar secara masif melalui media sosial dengan kecepatan yang tak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah peradaban manusia. Buzzer dan akun robot (bot) bekerja 24 jam tanpa lelah menggiring opini publik untuk membenci satu sama lain hanya karena pilihan politik, keyakinan, atau bahkan sekadar perbedaan selera budaya yang sepele. Hoaks-hoaks itu dirancang dengan judul bombastis, gambar manipulatif dan testimoni palsu agar mudah dipercaya tanpa proses verifikasi sedikit pun dari pihak pembaca. Yang lebih ironis lagi, kita sendiri tanpa sadar menjadi kurir paling setia bagi narasi-narasi perusak itu setiap kali kita menekan tombol share di ponsel masing-masing.

Di sisi lain, politik identitas menjelma menjadi pisau bermata dua yang mengancam keutuhan sosial kita dari dalam secara perlahan tapi pasti. Identitas kolektif seperti agama, etnis, partai politik atau bahkan dukungan terhadap figur publik tertentu dijadikan tameng sekaligus senjata untuk menyerang “yang lain” yang berbeda pilihan. Yang berbeda pandangan tidak lagi dipandang sebagai saudara sebangsa yang berhak mendapat ruang dialog dan penghormatan, melainkan sebagai “lawan” yang harus disingkirkan secara moral, sosial, bahkan ekonomi oleh kelompoknya masing-masing. Ruang publik terbelah menjadi camp-camp eksklusif yang saling curiga dan enggan berkomunikasi, padahal kita semua adalah anak bangsa yang lahir dari rahim yang sama yaitu Indonesia tercinta. Akibatnya, nilai-nilai kebersamaan yang selama puluhan tahun kita bangun bersama runtuh dalam hitungan jam oleh unggahan yang dirancang viral tanpa mempedulikan kebenaran di dalamnya.

Tak kalah berbahaya dari itu semua adalah bangkit kembali ego sektoral yang dibungkus dengan kemasan modern dan kekinian di ruang digital kita. Sentimen kedaerahan dan kesukuan kembali menguat, bukan lagi sebagai bentuk cinta pada budaya leluhur yang patut kita lestarikan, melainkan sebagai alat mobilisasi massa untuk kepentingan sesaat yang seringkali tidak jelas ujung pangkalnya. Individualisme digital membuat orang lebih peduli pada lingkaran pertemanan maya ketimbang tetangga di sebelah rumah yang berbeda keyakinan atau pilihan politik dengannya. Orang lebih mudah terprovokasi oleh status WhatsApp daripada mau berdialog langsung dengan saudara sendiri yang berbeda pandangan dalam suasana yang hangat dan bersaudara. Perlahan tapi pasti, ikatan sosial yang menjadi fondasi kokoh bangsa mulai keropos dimakan zaman yang serba instan dan dangkal ini.

Perbandingan Era Perjuangan Kemerdekaan dengan Era Digital

Mari kita bandingkan secara jernih untuk menyadarkan diri: pada era perjuangan fisik, musuh jelas identitasnya dan medan perang pun kasat mata oleh semua orang. Para pahlawan menggunakan bambu runcing, senjata rampasan dari musuh dan taktik gerilya di hutan-hutan serta gunung-gunung Nusantara yang terjal dan penuh bahaya. Modal utama mereka adalah nyali, solidaritas fisik yang luar biasa dan keyakinan teguh bahwa kemerdekaan lebih berharga daripada nyawa mereka sendiri. Namun kini, musuh kita adalah narasi yang anonim tanpa wajah, senjata kita adalah literasi digital yang masih tipis dan medan perangnya adalah linimasa media sosial yang tak pernah tidur. Jika dulu kekalahan berarti penjajahan fisik yang terlihat, maka kekalahan kini berarti penjajahan pikiran yang jauh lebih sulit disembuhkan karena ia bersarang di dalam kepala kita.

Ada ironi besar yang harus kita renungkan bersama di antara hiruk-pikuk informasi ini: dulu perbedaan suku dan agama justru kita perkokoh menjadi semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang membanggakan dunia. Para pendiri bangsa dengan sadar dan penuh kearifan memilih negara kesatuan di atas fondasi keragaman, karena mereka paham betul bahwa perbedaan adalah kekayaan, bukan kelemahan seperti yang digembar-gemborkan oleh musuh-musuh kita. Tetapi sekarang, perbedaan yang sama dengan mudah dipolitisasi dan dimanipulasi menjadi alat pemecah yang jauh lebih efektif daripada seribu tentara penjajah yang pernah datang ke tanah air. Ironisnya, kita sendiri masyarakat pengguna media sosial yang menjadi aktor sekaligus korban dalam drama perpecahan yang tidak pernah kita inginkan ini. Kita menyebarkan, mempercayai dan mengamini alat-alat perusak itu tanpa pernah bertanya siapa di balik layar yang sesungguhnya diuntungkan dari semua kekacauan ini.

Dan yang membuat ancaman ini lebih berbahaya dari penjajahan fisik adalah bahwa ia berlangsung tanpa pertumpahan darah dan tanpa deklarasi perang secara terbuka di depan mata kita. Sebuah bangsa bisa runtuh hanya karena kehilangan kepercayaan antar warganya, bukan karena rudal atau bom yang meledak di tengah kota seperti yang kita bayangkan. Sebuah negara bisa lumpuh total karena warganya sibuk berdebat dan saling menjatuhkan di dunia maya, sementara mereka lupa membangun negeri di dunia nyata yang membutuhkan kerja nyata. Sebuah ideologi asing pun bisa masuk dengan mudah melalui gawai dan menggerogoti Pancasila dari dalam, tanpa perlu mengirim satupun tentara ke Indonesia secara fisik. Inilah yang saya sebut sebagai “disintegrasi tanpa suara tembakan, tanpa tangisan di medan laga” tetapi dengan jutaan retweet, share dan comment yang dipenuhi kebencian dan permusuhan.

Kita Pernah Menjadi Bangsa yang Kuat dan Kini Terancam

Pertanyaannya kini adalah: mengapa dulu kita begitu kuat menghadapi penjajah fisik yang jauh lebih mengerikan, tetapi kini begitu rapuh menghadapi serangan digital yang tidak terlihat? Jawabannya sederhana namun menyakitkan: karena musuh dulu ada di luar sana, sementara musuh kini bersarang di dalam kepala dan hati kita sendiri tanpa kita sadari. Kita kehilangan kemampuan untuk membedakan mana fakta dan mana opini, mana berita dan mana hoaks, mana kritik membangun dan mana ujaran kebencian yang merusak. Kita juga kehilangan kesabaran untuk mendengar pihak lain dengan kepala dingin, karena algoritma media sosial telah melatih kita untuk hanya mengonsumsi konten yang sejalan dengan pandangan kita sendiri dan menolak yang lain. Akibatnya, kita menjadi buta terhadap kebenaran yang utuh dan tuli terhadap seruan persatuan yang justru paling kita perlukan di saat-saat genting ini.

Jika dulu semboyan kita adalah “Sekali merdeka, tetap merdeka!”, maka kini semboyan baru yang harus kita pegang erat-erat adalah: “Sekali bersatu, tetap Bersatu: lawan hoaks, tolak polarisasi, rajut kembali kebhinekaan dengan segenap jiwa!” Kita tidak boleh membiarkan narasi pecah belah memenangkan pertaruhan terbesar bangsa ini, karena taruhannya adalah masa depan anak cucu kita kelak. Tugas kita adalah menjadi benteng terakhir yang menjaga keutuhan Indonesia, bukan dengan senjata tajam, tetapi dengan akal sehat yang jernih dan hati yang terbuka untuk semua perbedaan. Setiap kali kita memilih untuk memverifikasi informasi sebelum mempercayainya, kita sedang memenangkan pertempuran kecil melawan disintegrasi yang sangat berarti. Setiap kali kita memilih berdialog dengan santun daripada menghujat dengan kasar, kita sedang merajut kembali jaring persatuan yang mulai robek dimakan zaman.

Langkah nyata yang wajib kita ambil tanpa menunda lagi adalah membangun literasi digital sebagai benteng utama pertahanan bangsa di era serba digital ini. Kita harus membiasakan diri untuk cek fakta sebelum membagikan informasi, dengan memeriksa sumber, isi, konteks dan kepentingan di balik setiap konten yang kita terima di ponsel atau laptop kita. Kedua, kita perlu aktif membangun dialog lintas identitas, berani mendengarkan dan berbicara dengan kelompok yang berbeda pandangan tanpa niat memusuhi atau menyalahkan mereka terlebih dahulu. Jangan biarkan ruang digital hanya menjadi medan pertempuran yang melelahkan, tetapi jadikan ia sebagai jembatan emas untuk saling memahami dari hati ke hati. Ingatlah selalu bahwa membangun jembatan jauh lebih mulia daripada membangun tembok pemisah di antara sesama anak bangsa yang sama-sama mencintai Indonesia.

Ketiga, kita harus menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila sebagai kompas moral di era disrupsi yang membingungkan ini, karena sila ketiga bukanlah slogan usang melainkan strategi bertahan hidup yang telah terbukti ampuh. Gotong royong digital perlu kita galakkan bersama: saling mengingatkan dengan santun dan penuh kasih, bukan saling menghujat dengan keras dan kasar, ketika melihat akun-akun yang menyebarkan kebencian di linimasa kita. Keempat, kita harus menolak segala bentuk politik identitas yang memecah, dengan memilih pemimpin dan kebijakan berdasarkan rekam jejak dan solusi nyata, bukan sekadar kesamaan latar belakang primordial yang dangkal. Kita juga wajib mengkritisi setiap upaya politisasi SARA, baik yang datang dari tokoh publik maupun akun anonim di balik layar yang tak bertanggung jawab. Dengan empat langkah sederhana namun besar ini, kita tidak hanya selamat dari perpecahan yang mengancam, tetapi juga keluar sebagai bangsa yang lebih dewasa dan tangguh menghadapi masa depan.

Kita sedang tidak berperang melawan negara lain dengan bendera asing, tetapi sedang berperang melawan kebodohan, kecerobohan dan keserakahan akan kekuasaan yang menyamar menjadi narasi-narasi indah namun mematikan. Jika dulu para pahlawan memanggul bambu runcing demi merdeka dengan darah dan air mata, maka kitalah pahlawan zaman ini dengan tugas memanggul kebenaran dan menjaga akal sehat di tengah badai informasi yang menghantam. Jangan biarkan layar ponsel yang kecil itu memecah apa yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan luar biasa selama berabad-abad lamanya oleh leluhur kita. Karena Indonesia tidak akan pernah runtuh oleh bom dari luar, selama kita semua tidak membiarkan bom narasi meledak dari dalam diri kita sendiri yang paling dalam. “Pecah Kongsi 4.0” adalah peringatan keras bagi kita semua, Bhinneka Tunggal Ika adalah jawaban abadinya dan kita seluruh anak bangsa dari Sabang sampai Merauke adalah penjaganya yang terakhir.

Penulis

M. Sauki, M.A.

Dosen UI BBC dan Mahasiswa Politik dan Pemerintahan S3 Undip Semarang

 

Tags: 4.0Adu Domba DigitalArtikel IlmiahEra DigitalNenek MoyangPecah KongsiPolitik Adu Domba

Related Posts

Ono Surono Dukung Sayembara Begal Dedi Mulyadi, Minta Penanganan Kejahatan Tak Berhenti di Hadiah

Ono Surono Dukung Sayembara Begal Dedi Mulyadi, Minta Penanganan Kejahatan Tak Berhenti di Hadiah

25 Juli 2026
Wabup Cirebon: Sekolah Rakyat Terintegrasi Launching Akhir Juli

Wabup Cirebon: Sekolah Rakyat Terintegrasi Launching Akhir Juli

25 Juli 2026

Dua Pimpinan Cirebon Power Raih Energy Executive Award 2026

23 Juli 2026

Potret Ceria Siswa Peserta Dongeng Hemat Listrik Bersama Cirebon Power di Hari Anak Nasional 2026

23 Juli 2026

Heboh Dugaan Keberadaan ‘Dusun Gaib’ di Desa Playangan Cirebon, Warga Pertanyakan Transparansi Dana Desa

20 Juli 2026
Bupati Indramayu Jenguk Korban Lakalantas di Jalur Pantura Lohbener 

Bupati Indramayu Jenguk Korban Lakalantas di Jalur Pantura Lohbener 

20 Juli 2026

Redaksi | Tentang Kami | Pedoman Media Siber

Partner

© 2026 ciayumajakuning.id - PT. Sonde Mitra Utama
No Result
View All Result
  • Umum
  • Seni & Budaya
  • Pariwisata
  • Ekbis
  • Teknologi
  • Lifestyle
  • Umkm

© 2020 ciayumajakuning.id