CIAYUMAJAKUNIG.ID: Musim kemarau sering kali menjadi ujian berat bagi para petani. Di saat curah hujan menurun, kebutuhan air irigasi justru meningkat drastis.
Selama ini, solusi cepat yang sering diambil adalah menggunakan pompa air. Sayangnya, pompa konvensional sangat bergantung pada Bahan Bakar Minyak (BBM), yang ujung-ujungnya membuat biaya operasional petani membengkak.
Menjawab tantangan tersebut, sebuah solusi inovatif dan ramah lingkungan kini hadir di Kabupaten Majalengka untuk menyelamatkan napas pertanian lokal.
Langkah ini bermula dari permohonan Pemerintah Kabupaten Majalengka yang melaporkan adanya ancaman kekeringan serius pada lahan pertanian di wilayahnya. Merespons hal tersebut, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung mengambil langkah taktis.
Sejak 29 Juli 2026, BBWS Cimanuk Cisanggarung mulai mengoperasikan Pompa Alkon Centrifugal modifikasi bertenaga surya di Desa Leuweunghapit, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka.
Mengubah teriknya matahari musim kemarauyang biasanya menjadi penyebab kekeringan menjadi sumber energi penggerak mesin yang mengairi lahan.
Cara Kerja dan Keunggulan Pompa Surya
Inovasi pompanisasi ini dirancang khusus untuk menghadapi kondisi darurat kekeringan dengan efisiensi maksimal.
Berikut adalah beberapa keunggulan sistem yang diterapkan:
Kapasitas Aliran yang Besar: Sistem pompa ini mampu memompa air dengan kapasitas debit antara 150 hingga 400 liter per menit.
Menjangkau Titik Kritis: Pompa dipasang secara strategis di titik-titik yang masih memiliki ketersediaan air. Air tersebut kemudian disedot dan dialirkan menuju jaringan irigasi yang sudah lumpuh karena air tidak lagi bisa mengalir secara gravitasi akibat penurunan muka air.
Hemat Biaya Operasional: Memanfaatkan tingginya intensitas cahaya matahari saat kemarau, pompa ini secara drastis memangkas biaya operasional karena memutus ketergantungan penuh terhadap BBM.
Menyelamatkan 250 Hektare Sawah dari Gagal Panen
Kehadiran pompa bertenaga surya ini menjadi “angin segar” bagi para petani di Desa Leuweunghapit. Suplesi air yang dihasilkan mampu melayani sekitar 250 hektare areal persawahan.
Dampaknya langsung terasa. Petak-petak sawah yang sebelumnya mulai retak dan kekurangan air, kini kembali terairi dengan baik. Pasokan air ini memastikan kebutuhan tanaman pada fase pertumbuhan kritis tetap terpenuhi, sehingga risiko gagal panen (puso) dapat ditekan secara signifikan.
Apresiasi Pemerintah Daerah
Langkah solutif dari BBWS Cimanuk Cisanggarung ini mendapat sambutan hangat dari pemerintah daerah setempat. Bupati Majalengka, Eman Suherman, secara khusus menyampaikan apresiasinya atas kecepatan dan ketepatan penanganan kekeringan di Desa Leuweunghapit.
Dengan terjaganya ketersediaan air irigasi ini, kelangsungan musim tanam diharapkan dapat berjalan lancar. Inovasi teknologi tepat guna ini tidak hanya menyelamatkan tanaman, tetapi juga sukses mempertahankan produktivitas lahan pertanian serta ketahanan pangan Majalengka di tengah puncak musim kemarau.









