CIAYUMAJAKUNING.ID: Upaya deteksi dini kanker paru mulai diperkuat hingga tingkat fasilitas kesehatan pertama. Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Kampus Cirebon melatih petugas Puskesmas Gunungsari, Kota Cirebon, agar mampu memanfaatkan teknologi digital dalam melakukan skrining risiko kanker paru.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Studi DIII Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK) Cirebon, Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya.
Program ini dinilai penting mengingat kanker paru masih menjadi salah satu penyakit dengan angka kematian tinggi. Di Kabupaten Cirebon saja, tercatat 372 kasus karsinoma paru primer sepanjang 2021 hingga 2023.
Sebagian besar kasus tersebut ditemukan pada kelompok usia di atas 40 tahun. Kebiasaan merokok menjadi salah satu faktor risiko utama yang berkaitan dengan kanker paru.
Ketua tim PkM, Bambang Karmanto, SKM, M.Kes, mengatakan kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi sekaligus pendampingan kepada masyarakat dalam melakukan deteksi dini.
Dalam program tersebut, Bambang bersama Maula Ismail Mohammad, ST, M.KM, serta tiga mahasiswa memperkenalkan optimalisasi fitur skrining kesehatan pada aplikasi SATUSEHAT Mobile milik Kementerian Kesehatan.
Melalui fitur tersebut, masyarakat dapat melakukan skrining secara mandiri untuk mengetahui risiko kanker paru. Hasil skrining selanjutnya dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk mendapatkan edukasi maupun tindak lanjut layanan kesehatan sesuai kebutuhan.
Sebelumnya, Puskesmas Gunungsari belum memiliki panduan operasional teknis maupun kegiatan khusus untuk deteksi dini kanker paru yang terintegrasi dengan alur pelayanan rutin.
Karena itu, pelatihan tidak hanya berfokus pada pengenalan teknologi, tetapi juga bagaimana petugas kesehatan dapat menggunakannya sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif di tingkat puskesmas.
Pelatihan digelar secara luring di Aula Puskesmas Gunungsari pada 28 Juli 2026.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti kegiatan. Nilai rata-rata peserta yang sebelumnya mencapai 84,38 pada pre-test meningkat menjadi 91,88 pada post-test.
Peningkatan juga terlihat dari jumlah peserta yang memperoleh nilai sempurna. Jika pada pre-test hanya 6,25 persen peserta yang mendapatkan nilai 100, angka tersebut meningkat menjadi 56,25 persen setelah pelatihan.
Untuk mendukung keberlanjutan program, tim PkM juga menyerahkan modul pelatihan dalam bentuk cetak serta video tutorial yang dapat digunakan petugas sebagai bahan edukasi kepada masyarakat.
Selain materi edukasi, Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Kampus Cirebon menyerahkan satu unit komputer tablet Advan Sketsa 3 kepada Puskesmas Gunungsari untuk menunjang praktik dan pelayanan di lapangan.
Tim pengabdi berharap pemanfaatan teknologi tersebut tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini kanker paru.
Dengan keterampilan tersebut, petugas puskesmas diharapkan mampu mendampingi masyarakat, terutama kelompok yang memiliki faktor risiko, agar lebih mudah mengakses informasi dan melakukan skrining melalui layanan digital.
Deteksi dini menjadi salah satu bagian penting dalam penanganan kanker karena dapat membuka peluang ditemukannya penyakit pada tahap yang lebih awal, sehingga pasien dapat memperoleh penanganan lebih cepat.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan fasilitas pelayanan kesehatan, pemanfaatan teknologi seperti SATUSEHAT diharapkan dapat memperluas jangkauan edukasi dan skrining kanker paru hingga ke masyarakat tingkat kelurahan.







