https://ciayumajakuning.id
No Result
View All Result
Rabu, 16 September 2026
  • Umum
  • Seni & Budaya
  • Pariwisata
  • Ekbis
  • Teknologi
  • Lifestyle
  • Umkm
Informasi Seputar Cirebon Raya
No Result
View All Result
Home Umum

Kisah Transisi M dan Penerimaan Keluarga

by Noer Panji
16 September 2026
in Umum

Maulana tak hentinya berkarya membuat tulisan hingga ia membuat satu buah novel kecil berjudul Keloid yang menceritakan pengalaman masa kecilnya hingga menjadi seorang Queer. (ciayumajakuning.id)

CIAYUMAJAKUNING.ID: Jemari kecil M menari di atas sebuah keyboard laptop milik M yang tak hentinya berkarya. Mata tertuju pada layar laptop dan tulisan cerpen hasil pengalamannya mendampingi korban kekerasan khususnya perempuan dan anak.

Namun, di balik semangatnya mengedukasi dan advokasi kekerasan seksual, sebuah pengakuan identitas membawa guncangan hebat M terutama di ruang keluarga. Mulai dari penolakan, depresi, hingga dukungan tak bersyarat.

BacaJuga

Wagub Erwan Dorong Mahasiswa Baru IKOPIN Jaga Eksistensi Koperasi

Live Bursa Kerja KDM Diserbu 268 Ribu Penonton

Gubernur Jabar Buka Live Bursa Kerja Tiap Rabu di TikTok

Poltekkes Tasikmalaya Latih Petugas Puskesmas Gunungsari Deteksi Dini Kanker Paru Lewat SATUSEHAT

“Aku dapat support system itu ya sebenarnya lewat dosen pembimbing akademik waktu kuliah dulu,” ujar M, Kamis (9/7/2026).

Perjalanan M membuktikan bahwa cinta seorang ibu dan keluarga mampu mengalahkan ketakutan apa pun. Perjalanan panjang M menuju penerimaan diri itu dimulai dari ruang akademik. Saat itu M masih menjadi mahasiswa tengah bergulat dengan identitas gendernya, dukungan pertama justru tidak datang dari rumah, melainkan dari dosen pembimbing akademiknya.

Sang dosen, yang dikenal memiliki karakter terbuka dan tidak menghakimi, menjadi jembatan awal. Ia menuturkan, sang dosen datang ke rumah untuk membantu memberikan penjelasan kepada keluarga terutama Ibu.

Penjelasan diberikan secara perlahan, sang dosen menegaskan bahwa kondisi anaknya bukanlah sebuah kelainan, melainkan bagian dari keberagaman manusia yang butuh diterima. Proses penerimaan tidak terjadi dalam semalam.

“Keluarga butuh waktu sekitar empat hingga lima tahun untuk benar-benar bisa menerima keadaan saya. Bahkan saya sempat ibaratnya seperti disidang oleh kakak-kakak saya cerita lewat tulisan dan itu tanpa kehadiran sang Ibu,” ujarnya.

Masa-masa berjarak dengan keluarga itu membawa dampak psikologis yang berat bagi M. Puncaknya terjadi pada Tahun 2011, saat ia duduk di semester tiga, tekanan batin akibat sikap keluarga yang menjauhi membuatnya depresi hingga jatuh sakit.

“Aku depresi lah ya, kena mental gitu sampai sakit dan sempat dioperasi. Usus buntunya pecah di dalam, agak kritis. Itu lebih ke psikis karena memikirkan kondisi di keluarga,” kenangnya, Kamis (9/7/2026).

Berbagai persoalan Ia kerap hadapi dengan tegar dan tetap sendiri. Hingga akhirnya perlahan sang keluarga mulai menunjukkan sikap menerima apa adanya kondisi M.

“Kamu laki-laki kan? Jangan tinggalkan salat Jumat,” sebut M seraya mengingat ucapan almarhumah sang ibunda.

Di tengah guncangan tersebut, ibu menjadi sosok pertama yang perlahan merangkulnya. Sebagai anak bungsu dari enam bersaudara yang banyak menemani ibunya setelah kepergian sang Ayah, ikatan batin keduanya sangat kuat.

Dukungan sang ibu tidak hanya dalam bentuk penerimaan pasif, tetapi juga dorongan spiritual dan keberanian nyata. Ada satu momen dan pesan dari sang ibu yang paling membekas di ingatannya.

“Waktu itu ibu mengingatkan agar aku tidak meninggalkan salat Jumat. Ibu mengingatkan agar agama jangan ditinggal,” tuturnya menirukan pesan sang ibu.

Ketika kakak-kakaknya mundur dan ragu untuk terlibat, sang ibu justru pasang badan. Bahkan, katanya, dukungan keluarga kini semakin utuh, saat ini, M tinggal bersama kakak perempuan tertuanya.

Sang kakak juga belajar ilmu psikologi secara otodidak untuk lebih memahami kondisinya secara keilmuan hingga menyadari bahwa apa yang dialami adiknya bukanlah sekadar fase “tomboy” masa kecil, melainkan orientasi dan identitas yang valid.

Kebebasan berekspresi mulai sepenuhnya dirasakan M setelah ia lulus kuliah pada 2016. Perlahan M mulai menemukan jati diri dan terus mencoba untuk berani terbuka mengakui dirinya di hadapan keluarga.

Cara unik dilakukan M saat memulai pengakuannya di hadapan sang kakak. Ia menulis surat dan masing-masing surat diserahkan kepada kakaknya.

Tak lama kemudian, surat tersebut mendapat respon dari sang kakak hingga akhirnya mereka semua berkumpul untuk mendengarkan sendiri pengakuan dan yang dirasakan M selama ini.

“Lambat laun mereka paham ternyata ini yang dirasakan adiknya sejak lama. Dan saya pun mulai transisi sosial bahkan ibu saya sendiri mengingatkan terus agar tidak meninggalkan ibadah. Kalau waktunya Jumatan ya saya disuruh salat Jumat,” ujarnya.

Transisi Medis

M pun terus berjibaku aktif bekerja keras mengumpulkan uang secara mandiri sejak 2018-2019 untuk mewujudkan keinginannya melakukan transisi medis. Jalan untuk operasi medis akhirnya terbuka lebar pada Tahun 2020 setelah ia bertemu dengan seorang aktivis yang bergelut dalam isu kekerasan perempuan berinisal N.

Melalui dorongannya, M menuliskan kisah hidupnya menjadi seorang novelis. Bahkan melalui karya tulis itulah, M berhasil membiayai operasi transisi medisnya pada Tahun 2021.

“Uang yang saya dapat dari nulis buku itu yang saya pakai untuk transisi medis meski baru sebagian. Lumayan besarannya total Rp 50 jutaan,,” ujar M.

Ia menyebutkan banyak yang harus dilalui saat proses operasi. M terlebih dahulu harus melewati tindakan medis untuk operasi transisi anatomi biologis laki-laki.

M mengaku hal paling menantang selama transisi medis adalah rutinitasnya melakukan suntik hormon. Ia menjelaskan, pada prinsipnya ia harus melakukan transisi hormon seumur hidupnya.

“Transisi itu berkelanjutan bisa dibilang seumur hidup. Untuk kesehatan tidak ada hambatan lain, soal kesehatan lancar. Memilih operasi juga membutuhkan biaya lebih besar lagi jadi memang saya butuh pekerjaan yang stabill pemasukannya,” ujarnya.

M menyebutkan, tantangan lain yakni dokternya yang mau menangani pasien transman hanya ada di Jakarta. Oleh karena itu, jika M butuh konsultasi maka harus ke Jakarta.

M mengaku hanya sekali konsultasi langsung dengan dokter di Jakarta sekaligus melakukan suntik hormon, Setelah itu, M melakukan suntik hormon sendiri selama 2 minggu sekali sesuai arahan dokternya.

“Harga sekitar Rp 60 ribu sampai Rp 100 ribu tergantung merk dan kebutuhan jenis hormonnya,” ujar M..

Saat itu, katanya, dokter menganjurkan M menjalankan tiga rangkaian operasi agar hasilnya maksimal. Ia pun berhasil melewati proses rangkaian operasi pertama dan berjalan sukses.

“Dua rangkaian lainnya belum terwujud karena pastinya butuh biaya lebih besar. Saya masih mengumpulkan dana,” ujarnya.

Kini, hari-harinya tidak hanya diisi untuk dirinya sendiri. Ia aktif membantu usaha pemotongan ayam milik kakaknya dan berjualan buku untuk menggalang dana (fundraising). Ia pun sering berbagi cerita dan pengalamannya menjadi seorang queer kepada yang lain.

Ia mengaku sempat membagikan kisahnya di hadapan para santri dalam sebuah gerakan Iqamah yang diinisiasi Fahmina Institute Cirebon. Lebih dari itu, ia mendedikasikan waktunya sebagai pendamping bagi korban-korban kekerasan seksual.

Gerakan Iqamah merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan komunitas keberagaman baik queer maupun non queer. Mereka dengan bebas bisa mengikuti kajian keagamaan yang rutin melalui pertemuan virtual atau zoom.

“Namun belakangan gerakan ini sedang vakum saya sendiri tidak tahu alasannya. Padahal kegiatan sangat bermanfaat sebagai ajang berbagai pengalaman informasi dan pengetahuan tentang seksualitas baik kepada santri maupun masyarakat umum,” ujarnya.

Pengalaman mendampingi para korban menginspirasinya untuk kembali melahirkan karya. Saat ini, ia tengah mempersiapkan buku keduanya yang berisi sebuah kumpulan cerita pendek fiksi yang mengangkat isu kekerasan seksual, merangkum pengalaman getir para korban (termasuk korban laki-laki) ke dalam bahasa sastra agar pesannya lebih mudah diterima masyarakat.

Di ujung perbincangan, ia menyematkan satu harapan sederhana untuk masa depannya.

“Harapan ke depan, ya bisa tetap melanjutkan hidup dengan lebih baik. Karena secara dokumentasi kependudukan sudah lebih baik, semoga bisa mengeksplorasi pekerjaan lain yang bisa menerima aku apa adanya,” ujarnya.

Salah satu rekan kerja M yang aktif dalam advokasi kekerasan perempuan berinisial O menuturkan pertemuannya dengan M saat sama-sama aktif di satu gerakan yang sama. M yang aktif dalam aktivitas menulis dipertemukan O dalam satu pertemuan penting Tahun 2020 an.

Merasa diri banyak kesamaan, M memutuskan kerja bersama dengan O membangun jaringan advokasi kekerasan terhadap perempuan. Dari situ, O kemudian memberikan pekerjaan yang bisa membantu M untuk mewujudkan perjuangan melakukan transisi medis.

Pertemuan O dengan M saat itu sedang mengikuti satu kegiatan pelatihan bersama menulis di Cirebon. Keduanya bertemu hingga M diajak untuk bergabung dalam kegiatan yang dikelola O mengedukasi tentang kekerasan perempuan.

“Kebetulan memang bu Nina itu saya kenalkan ke M hingga akhirnya dapat kerjaan lumayan dan hasilnya untuk dinikmati oleh M. Kalau di tempat kami sosok M sangat antusias dan semangat terutama setiap ia menjadi pemateri sabar melakukan pendampingan,” ujar O.

Selama aktivitas, M tak hanya fokus dalam belajar dan bekerja layaknya aktivis kemanusiaan. M pun tak lupa dengan tanggung jawabnya sebagai manusia yang taat beragama.

Ia mengaku tidak bisa turut campur terlalu banyak terkait persoalan pribadi yang ada pada diri M. Baginya, semua manusia memiliki hak yang sama di mata Tuhan, meski ada yang berbeda.

“Di tempatnya bekerja bukan cuma nulis kadang dia ngulik-ngulik atau cari ide segar apa yang bisa membawa suasana hepi. Termasuk bantun jualan produk kakaknya ya kalau tidak salah,” ujar O.

Butuh Diterima

Hal senada disampaikan D yang merupakan kakak kandung M. Ia mengaku tak pernah berhenti memberikan dukungan moral kepada sang adik bungsunya itu. D menuturkan adik-adiknya mayoritas perempuan.

“Ya memang pas adik saya bungsu ini sebelumnya juga tidak mengerti ya, fenomena apa yang dialami. Melihat dia kecil waktu itu seperti ada ketidakpuasan dalam berelasi dengan kawan-kawan dengan dirinya, tapi saya sendiri waktu itu tidak tahu yang dirasakannya karena diam saja,” ujar D.

Ia mengaku, saat sang adik masih berjuang mencari jati diri, ia sudah dalam posisi sudah berumah tangga. Sehingga, tidak terlalu fokus bagaimana melihat serta banyak berinteraksi dengan adik-adiknya.

Namun, pada perjalanannya, Ia kerap melihat sang adik seperti sedang menghadapi persoalan psikologis. Sang adik, katanya terlihat seperti marah pada diri sendiri.

“Memang pendiam dan tidak kelihatan sedang memendam perasaan saya cuma melihat fenomena secara psikologis yang kelihatan kok anak marah dengan sendirinya atau seperti itulah begitu. Yang dia sendiri waktu itu kan tidak mengerti kondisinya dirinya begitu ya. Seperti mencari jati diri,” ujarnya.

Seiring waktu berjalan, sang adik terlihat terus berjuang sampai dia menemukan jati dirinya. Ia melihat sang adik terus menunjukkan perubahan dan meyakinkan jika dirinya adalah laki-laki.

Namun, pada perjalanannya, ia mengaku melihat sendiri perjuangan sang adik menemukan jati diri. Tekanan demi tekanan batin terus dihadapinya sendiri tanpa cerita kepada sang kakak.

“Saya sendiri juga repot dengan rumah tangga saya dulu gitu ya dan kakak-kakaknya yang lain juga sama seperti itu. Kakak-kakak nya sebagian besar sudah berumah tangga semua tinggal adik saya sendirian. Selepas kuliah setelah lulus baru adik saya beranikan diri cerita sama keluarga,” ujarnya.

Ia menuturkan, semula keluarga kaget mendengar pengakuan sang adik kepada kakak-kakak nya. Sang adik mulai berani terbuka dan mengakui yang dirasakan kepada sang kakak melalui surat yang dikirim kepada kakak lainnya.

Beberapa saat usai sang M menulis surat. Mereka berinisiatif untuk kumpul di rumah membicarakan kondisi sang bungsu.

“Dia berjuang sendiri ya dan kita juga belum mengerti tentang keadaan nya sebetulnya apa yang terjadi gitu. Cuma saya sebagai kakak setelah melihat kondisi adik langsung akhirnya sangat bisa memaklumi sih ya kenapa dulu saya melihat adik saya seperti tidak puas dengan dirinya. Mungkin ini jawaban dari kegelisahan,” ujarnya.

Setelah berkumpul, mereka mulai perlahan mencoba memahami kondisi yang dialami sang adik. Hingga pada akhirnya sang kakak pun mulai terbuka dan menerima kondisi adik yang dialami adiknya.

Ia mengaku hanya bisa memberi support sistem seadanya kepada sang adik untuk tetap berproses dan berdampak positif kepada orang lain. Salah satunya ajakan sang kakak untuk tinggal bersamanya meski beda rumah.

“Saya tidak alami tapi saya bisa bisa merasakan gitu ya. Kalau saya dalam posisi seperti itu kayak apa rasanya gitu ya. Perasaannya dominan kepada laki-laki seperti itu, tapi jasadnya wanita gitu ya,” ujarnya.

Ia menyatakan bentuk dukungan lain yakni selalu mendukung apapun keputusan yang diputuskan oleh sang adik sejauh bermanfaat dan berdampak positif untuk masyarakat.

“Kalau di dalam diri yang bersangkutan itu belum selesai malah akan menimbulkan masalah nanti ya di ke di kehidupan dia lainnya misalnya bermasyarakat, berkeluarga gitu dan artinya berkeluarga gitu ya. Itu kan, tapi yang saya salut dari adik saya, dia bisa melewati semua itu,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, ia menyampaikan sebagai manusia butuh untuk diterima. Fenomena yang dialami sang adik bisa dialami siapapun masyarakat lain.

“Ketika kita dalam satu keluarga ada yang mengalami seperti kami maka barulah di situ kita itu akan merasakan bahwa kita juga butuh diterima tanpa hukuman macam-macam karena ini bukan hal negatif,” ujarnya.

Editor:

Asep Saefullah

Nb:Dalam tulisan ini seluruh narasumber meminta tidak menulis nama dengan alasan keselamatan dirinya dan keluarga. Di Jawa Barat, kini marak persekusi terhadap kelompok minoritas dengan ragam identitas gender.

Tags: headlinepengakuan identitassupport systemtulisan tangan

Related Posts

Wagub Erwan Dorong Mahasiswa Baru IKOPIN Jaga Eksistensi Koperasi

Wagub Erwan Dorong Mahasiswa Baru IKOPIN Jaga Eksistensi Koperasi

16 September 2026
Live Bursa Kerja KDM Diserbu 268 Ribu Penonton

Live Bursa Kerja KDM Diserbu 268 Ribu Penonton

16 September 2026
Investigasi Inspektorat Belum Ungkap Titik Terang, KDM Bakal Turun Langsung ke Sumedang

Gubernur Jabar Buka Live Bursa Kerja Tiap Rabu di TikTok

16 September 2026

Poltekkes Tasikmalaya Latih Petugas Puskesmas Gunungsari Deteksi Dini Kanker Paru Lewat SATUSEHAT

16 September 2026
Kenangan Terakhir KDM untuk Kanaya: Tabungan Honor Rp400 Juta Disimpan Bertahun-tahun

Kenangan Terakhir KDM untuk Kanaya: Tabungan Honor Rp400 Juta Disimpan Bertahun-tahun

14 September 2026
Investigasi Inspektorat Belum Ungkap Titik Terang, KDM Bakal Turun Langsung ke Sumedang

KDM Instruksikan Pemkab Garut Tambah Alokasi Perbaikan Jalan

12 September 2026

Berita Terpopuler

  • GGM Majalengka Meriah Bersama Karnaval SCTV, 12-13 September Pekan Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lirik Lagu Mabok Ngeslot Anik Arnika Bahasa Cirebon Dan Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengintip Proyek Wisata Jabar Land Park Susukanlebak Cirebon

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Palagan Festival: Cara Unik Desa Alamanis Cirebon Menjaga Eksistensi Tari Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bisnis Sewa Motor Masa Depan: Terhubung lewat 1 pintu, YourBestie

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • FEBI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Siapkan Generasi Pemimpin Bisnis Berkelanjutan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dimana Ada Proyek Wajib Ada Papan Proyek, Ini Dasar Hukumnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jelang Purnabakti, 246 ASN Pemkab Cirebon Diberi Pembekalan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cara Kuliah S1 Hemat ke Luar Negeri Ya Program 3+1!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Swasembada Pangan, Majalengka Tanam Bawang Putih Serentak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Redaksi | Tentang Kami | Pedoman Media Siber

Partner

© 2026 ciayumajakuning.id - PT. Sonde Mitra Utama
No Result
View All Result
  • Umum
  • Seni & Budaya
  • Pariwisata
  • Ekbis
  • Teknologi
  • Lifestyle
  • Umkm

© 2020 ciayumajakuning.id