CIAYUMAJAKUNING.ID – Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menyerahkan secara langsung bantuan ekonomi produktif kepada lima kelompok masyarakat desa penyangga kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) di aula BTNGC Kuningan, Selasa (22/09).
Lima kelompok penerima bantuan tersebut masing-masing mendapatkan dukungan pengembangan usaha produktif dengan total sebesar Rp155 juta.
Bantuan terdiri atas Koperasi Ciremai Green Lambosir sebesar Rp50 juta dan Koperasi Karya Putra Mandiri sebesar Rp30 juta.
Kelompok pembudidaya ikan Desa Sadamantra sebesar Rp25 juta, Kelompok Pertanian Purba sebesar Rp25 juta serta Koperasi Lamping Kidang sebesar Rp25 juta.
Bupati Kuningan menegaskan pentingnya membangun keseimbangan antara peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan kelestarian lingkungan di kawasan Gunung Ciremai.
Ia juga mengapresiasi BTNGC dan Kementerian Kehutanan atas perhatian serta dukungan nyata terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar kawasa.
“Prinsip ekologis dan ekonomi harus berjalan berbarengan. Tidak bisa ekonomi saja kemudian ekologinya hancur. Sebaliknya, ekologis saja juga tidak cukup kalau masyarakatnya tidak sejahtera,” tegas Bupati.
Ia juga mendorong pemanfaatan potensi kawasan sekitar TNGC melalui hasil hutan bukan kayu (HHBK), jasa lingkungan, ekowisata, pertanian dan perikanan secara produktif dengan tetap memperhatikan prinsip kelestarian.
“Rumah di pinggir hutan, pinggir balong, maupun pinggir sungai yang dulu mungkin dianggap tidak memiliki nilai ekonomi, hari ini justru dapat menjadi potensi. Yang penting kelestariannya di jaga,” tambah Bupati.
Ia menilai masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan bukanlah ancaman bagi konservasi, melainkan dapat menjadi mitra sekaligus benteng utama dalam menjaga kelestarian Gunung Ciremai.
“Ketika hutan lestari, air bersih, lingkungan terjaga, masyarakat juga akan memperoleh manfaatnya,” tegas Bupati.
Dalam kesempatan itu, ia juga meminta perangkat daerah terkait untuk melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap kelompok penerima bantuan.
Bantuan yang di berikan, harus di kembangkan menjadi usaha produktif yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.
“Kalau ada produk, kemasan, pemasaran maupun manajemen usaha, saya minta di bina. Kalau ada program yang bersinggungan, agar di sinergikan sehingga bantuan ini benar-benar berkembang,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BTNGC Toni Anwar menjelaskan TNGC tak hanya berfungsi ekologis tetapi juga memiliki peran dalam mendukung perekonomian masyarakat sekitar.
Terdapat 54 desa penyangga kawasan TNGC yang ada di Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka.
“Keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi salah satunya apabila masyarakat desa penyangga dapat memanfaatkan kawasan secara ekologi, ekonomi dan sosial secara berkelanjutan,” jelasnya.
Pada tahun 2026, BTNGC mengalokasikan bantuan ekonomi produktif sebesar Rp300 juta untuk 13 kelompok mitra yang tersebar di Kuningan dan Majalengka.
“Kami berharap bantuan ini dapat di kelola dan dibl manfaatkan secara optimal, berkelanjutan serta menjadi stimulan bagi peningkatan pendapatan masyarakat,” tutup Toni. ***








