MAJALENGKA – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menyiapkan Desa Pajajar, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka, menjadi desa wisata pada tahun depan.
Pengembangan kawasan tersebut akan mengandalkan potensi alam dan budaya lokal yang masih terjaga.
KDM mengatakan, salah satu potensi utama Desa Pajajar adalah keberadaan mata air dan aliran air yang masih jernih. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana pedesaan.
“Ini kita masih punya kekayaan alam yang tidak ternilai, yaitu aliran air yang jernih,” kata KDM saat meninjau Desa Pajajar, Jumat (6/11/2026).
KDM memastikan pengembangan kawasan tersebut tetap mempertahankan karakter Desa Pajajar sebagai kampung adat. Pemprov Jabar juga berencana membangun sekitar 40 rumah adat di kawasan tersebut.
“Jadi ini kampung harus tetap menjadi kampung adat. Desa Pajajar. Ada mata airnya di sini,” ujarnya.
Penataan kawasan juga akan dilakukan dengan memperbaiki jalan lingkungan. KDM menyebut gang-gang di kawasan tersebut akan ditata menggunakan paving block agar lebih nyaman bagi warga maupun wisatawan.
“Di sini kita akan bangun 40 rumah adat nanti jalannya dibikin lucu, nanti gang-gangnya dikasih paving block biar nanti orang bisa datang ke sini untuk menikmati ketenangan hidup,” katanya.
KDM menargetkan Desa Pajajar mulai dikembangkan sebagai desa wisata pada tahun depan. Konsep tersebut akan memadukan potensi alam, budaya, dan kehidupan masyarakat setempat.
“Bapak ketua [DPRD Jabar] bantu, nanti tahun depan ini akan jadi desa pariwisata,” ucapnya.
Pengembangan Desa Pajajar juga dibarengi pembangunan hunian bagi masyarakat terdampak bencana. Pemprov Jabar membangun 21 unit rumah bagi warga yang terdampak pergeseran tanah dan kebakaran.
Kepala Badan Kepegawaian Provinsi Jawa Barat Dedi Supandi mengatakan pembangunan 21 rumah tersebut menjadi bagian dari kegiatan Abdi Nagri Menyulam Hari-Ngaprak Lembur #3 yang digelar di Desa Pajajar.
“Pembangunan rumah ini merupakan bentuk kepedulian dan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam membantu masyarakat untuk mendapatkan kembali hunian yang layak, aman, dan nyaman,” kata Dedi Supandi.
Menurut Dedi, kawasan hunian tersebut akan diintegrasikan dengan kawasan Desa Kampung Budaya Sunda. Pembangunan ini diharapkan tidak hanya menyediakan hunian bagi warga terdampak bencana, tetapi juga memperkuat potensi budaya dan ekonomi masyarakat.
“Pembangunan 21 rumah tersebut akan dilaksanakan secara bergotong royong dengan melibatkan gabungan perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui program Poe Ibu,” ujarnya.
Dedi mengatakan integrasi dengan Desa Kampung Budaya Sunda diharapkan memperkuat identitas budaya lokal sekaligus menciptakan lingkungan masyarakat yang harmonis, produktif, dan berdaya.
“Integrasi dengan Desa Kampung Budaya Sunda diharapkan turut memperkuat identitas budaya lokal serta menciptakan lingkungan masyarakat yang harmonis, produktif, dan berdaya,” katanya.








