CIAYUMAJAKUNING.ID – Guna memperkuat budaya literasi, Disarsipus Kuningan menggelar Festival Literasi 2026 yang mengusung tema ‘Tenggelam dalam Literasi, Terbit Generasi Berprestasi’ di Perpusda Kuningan, Purwawinangun, Kamis (08/10).
Festival Literasi menjadi rangkaian kegiatan budaya gemar sekaligus menjadi momentum pemberian penghargaan dan apresiasi kepada masyarakat yang telah berkontribusi dalam pengembangan budaya membaca.
Kadisarsipus Kuningan Nurahim mengatakan pihaknya terus berupaya menggalakkan budaya membaca.
“Kami terus berupaya menggalakkan dan melayani masyarakat dalam memenuhi kebutuhan referensi dan bahan pustaka,” ungkapnya.
Berbagai kegiatan tersaji dalam Festival Literasi Kuningan 2026 di antaranya workshop mendongeng, bedah buku, lomba menggambar, festival band, screening film, bazar buku serta pemberian penghargaan.
Sebelumnya, telah di laksanakan pula berbagai perlombaan seperti Lomba Keluarga Literasi, Lomba Duta Baca Pelajar dan Mahasiswa, Lomba Bertutur tingkat SD/MI sederajat, Lomba Video Konten Literasi, serta Lomba Resensi Buku tingkat SD, SMP, SMA/SMK sederajat.
Nurahim menambahkan Festival Literasi juga di arahkan guna menjadikan perpustakaan sebagai sarana penunjang pendidikan sekaligus ruang yang semakin dekat dengan masyarakat.
“Tujuannya adalah meningkatkan minat baca dan penguatan budaya literasi masyarakat untuk pemerataan layanan informasi dan bacaan kepada masyarakat dengan memanfaatkan fasilitas perpustakaan,” jelasnya.
Selain itu, kegiatan tersebut di harapkan mampu membantu perpustakaan umum dalam mengembangkan pendidikan nonformal, memperkenalkan buku dan bahan pustaka, memperkenalkan jasa perpustakaan kepada masyarakat, meningkatkan kunjungan serta menumbuhkan kecintaan terhadap buku.
Festival Literasi Kuningan 2026 di laksanakan pada 8-11 Oktober dengan berbagai sasaran peserta.
Nurahim juga menyampaikan bahwa dukungan masyarakat terhadap gerakan literasi terlihat dari terkumpulnya lebih dari 1.400 judul buku donasi.
Sementara itu, Kadispusip Jabar Kusmana Hartadji yang hadir dalam acara menilai literasi pada era digital memiliki makna yang jauh lebih luas di bandingkan sekadar kemampuan membaca dan menulis.
“Literasi merupakan kemampuan untuk memahami informasi, berpikir kritis, mengembangkan pengetahuan, berkomunikasi, berkarya serta mengambil keputusan secara bijak,” jelasnya.
Kusmana lalu menyoroti derasnya arus informasi melalui media sosial yang sering kali hanya berupa potongan informasi.
“Masyarakat tidak hanya di tuntut mampu mengakses informasi, tetapi juga memilah, memilih, mengevaluasi dan mengonsumsi informasi secara bertanggung jawab,” katanya.
Kusmana juga menyampaikan tiga prinsip yang perlu menjadi pegangan para pustakawan, yakni terlibat, bersinergi dan berdampak.
Terlibat berarti pustakawan hadir secara proaktif di tengah masyarakat. Bersinergi berarti membangun kemitraan antara pemerintah, swasta, akademisi dan komunitas.
Sedangkan berdampak berarti kegiatan literasi mampu menghasilkan perubahan nyata, termasuk dalam peningkatan kecakapan hidup, pemulihan ekonomi, hingga pengentasan kemiskinan.
“Literasi itu membawa kesejahteraan. Bukan hanya berperan dalam literasi, tetapi juga secara ekonomi dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,” tegasnya. ***









