BANDUNG — Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat mendapatkan dan mengakses informasi. Kondisi tersebut membuat pers menghadapi tantangan baru di tengah maraknya media sosial, konten video pendek, hingga kemunculan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melalui Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jabar, Adi Komar, menyoroti perubahan lanskap informasi tersebut saat Konferensi Provinsi Persatuan Wartawan Indonesia (Konferprov PWI) Jawa Barat 2026.
Pesan tersebut disampaikan Adi Komar saat membacakan sambutan Gubernur Jawa Barat dalam acara Konferprov PWI Jabar yang berlangsung di Horison Ultima, Kota Bandung, Rabu (12/8/2026).
Dalam sambutannya, Adi Komar terlebih dahulu menyampaikan salam dari Dedi Mulyadi kepada seluruh wartawan yang hadir. Gubernur Jawa Barat tidak dapat menghadiri kegiatan tersebut karena harus menjalankan agenda lain, termasuk mengunjungi sejumlah wilayah untuk melakukan asesmen terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Menurut Adi Komar, pola masyarakat dalam memperoleh berita telah berubah secara signifikan. Jika sebelumnya koran, radio, dan televisi menjadi sumber utama informasi, kini masyarakat bisa memperoleh berita melalui berbagai platform digital.
Dulu, kata Adi Komar, masyarakat mengandalkan koran, radio, dan televisi. Kini, informasi dapat datang dari media sosial, grup WhatsApp, hingga video-video pendek. Bahkan, perkembangan teknologi membuat konten berita juga dapat diproduksi menggunakan mesin AI.
Perubahan tersebut turut membawa tantangan berupa penyebaran informasi palsu atau hoaks. Adi Komar mengatakan, Jawa Barat masih menghadapi persoalan berita palsu yang beredar di tengah masyarakat.
Bahkan, terdapat pihak yang membuat konten palsu dengan mengatasnamakan Gubernur Jawa Barat. Kementerian Komunikasi dan Digital juga telah menemukan sejumlah konten palsu serupa.
SPMB Jawa Barat dan Pentingnya Komunikasi Publik
Persoalan informasi, lanjut Adi Komar, tidak hanya berkaitan dengan berita palsu. Sejumlah isu yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat juga membutuhkan komunikasi publik yang cepat, jelas, dan dapat dipercaya.
Salah satunya adalah pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Jawa Barat 2026. Persoalan SPMB tidak hanya menyangkut aspek teknis pelayanan publik, tetapi juga berkembang menjadi persoalan komunikasi ketika masyarakat membutuhkan informasi yang akurat.
“Ini menunjukkan satu hal ketika pemerintah terlambat memberikan informasi, ruang kosongnya akan segera diisi oleh informasi lain dan belum tentu informasi tersebut adalah benar,” tuturnya.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya keberadaan pers dalam memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang telah melalui proses verifikasi.
“Disinilah saya melihat posisi strategis insan pers. Disamping itu pers juga memiliki fungsi yang tidak dapat digantikan begitu saja oleh algoritma,” tegasnya.
Adi Komar menjelaskan, teknologi memiliki kemampuan yang semakin besar dalam menentukan sekaligus memproduksi informasi. Algoritma dapat membaca preferensi pengguna, sementara kecerdasan buatan mampu menghasilkan tulisan dalam waktu singkat. Di sisi lain, media sosial memungkinkan sebuah informasi menyebar hanya dalam hitungan menit.
Namun, menurutnya, kemampuan teknologi tersebut tidak serta-merta dapat menggantikan fungsi jurnalisme.
“Tetapi, jurnalisme memiliki sesuatu yang jauh lebih penting, verifikasi, konteks, independensi, dan tanggung jawab kepada publik,” ungkapnya.
Dedi Mulyadi Dorong Jurnalisme Berkualitas
Di tengah derasnya arus informasi, Adi Komar menyampaikan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap jurnalisme berkualitas justru semakin besar.
“Masyarakat membutuhkan wartawan yang tidak sekedar menjadi orang pertama yang memberitakan, tetapi menjadi orang yang memastikan bahwa apa yang diberitakan memang layak untuk dipercaya,” harapnya.
Menurut Adi Komar, kecepatan bukan satu-satunya ukuran dalam kerja jurnalistik. Wartawan juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada publik benar, memiliki konteks, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, pers dinilai memiliki posisi strategis dalam menjaga kualitas ruang informasi di tengah perkembangan teknologi digital dan AI.
Dedi Mulyadi: Pers Harus Menjadi Teman yang Kritis
Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga berharap hubungan antara pemerintah dan pers tidak hanya sebatas penyampaian informasi positif mengenai program pemerintah.
Dedi Mulyadi, melalui sambutan yang dibacakan Adi Komar, justru mendorong insan pers untuk tetap kritis dalam menjalankan fungsi jurnalistiknya.
“Kalau pemerintah ada kesalahan, ingatkan. Kalau masyarakat punya masalah yang belum didengar pemerintah, sampaikan. Pers dan pemerintah itu sama-sama bekerja untuk masyarakat,” tegasnya.
Menurutnya, kritik dari media menjadi bagian penting dalam memastikan persoalan di masyarakat dapat diketahui dan mendapatkan perhatian pemerintah.
Di sisi lain, pemerintah juga membutuhkan peran wartawan untuk menyampaikan berbagai persoalan masyarakat yang belum terdengar oleh pemerintah.
Ajak Wartawan Perangi Berita Palsu
Menutup sambutannya, Dedi Mulyadi berharap Konferprov PWI Jabar 2026 dapat menghasilkan berbagai program yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan dunia pers di Jawa Barat.
Ia juga mengajak wartawan bersama-sama melawan penyebaran berita palsu serta membangun ruang informasi yang sehat di tengah perkembangan teknologi digital.
“Pemerintah tidak bisa kerja sendiri. Kami sangat berharap dukungan dari teman-teman wartawan di semua daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten,” pungkasnya.









