CIAYUMAJAKUNING.ID: Pengembangan ekowisata di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dinilai tidak semestinya selalu diposisikan berseberangan dengan kepentingan konservasi.
Sebaliknya, aktivitas wisata alam dapat berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem dan satwa liar selama pengelolaannya dilakukan berdasarkan kajian ilmiah serta memperhatikan daya dukung kawasan.
Ahli zoologi dan biologi konservasi Universitas Indonesia (UI), Prof. Drs. Jatna Supriatna, Ph.D., menegaskan bahwa pengelolaan ekowisata harus menggunakan pendekatan sains.
Menurutnya, keputusan mengenai jumlah wisatawan, lokasi destinasi, perilaku pengunjung hingga dampaknya terhadap satwa tidak boleh hanya didasarkan pada asumsi atau kekhawatiran.
“Kalau banyak wisata, maka hewannya akan rusak, hewannya akan stres, dan sebagainya. Ini kesalahpahaman. Jadi, kita sering mendapatkan informasi-informasi yang salah,” ujar Jatna dalam kegiatan Orientasi Wartawan Konservasi Satwa Liar (Owaka) 2026 di Taman Safari Indonesia, Bogor, 21-23 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi wartawan untuk memperdalam pemahaman mengenai isu konservasi satwa liar, termasuk pentingnya menggunakan data dan pendekatan ilmiah dalam pemberitaan mengenai lingkungan, pariwisata alam dan konservasi.
Jatna mengatakan paradigma pengelolaan kawasan konservasi perlu terus berkembang. Menurut dia, pendekatan konservasi yang hanya berangkat dari rasa takut terhadap kerusakan justru dapat membuat pengelolaan wisata tidak optimal.
“Konservasi tradisional itu yang tadi: takut ini, takut itu. Takut hutannya mati dan sebagainya. Kita harus melihat science. Itu harus dihitung secara biologis, ekologis, dan perilaku,” katanya.
Ia menilai setidaknya terdapat sejumlah aspek yang harus dihitung sebelum sebuah kawasan dikembangkan sebagai destinasi ekowisata. Di antaranya daya dukung ekologis, kapasitas pengunjung, kondisi habitat serta perilaku satwa.
Dengan pendekatan tersebut, aktivitas wisata dapat dikendalikan agar tidak melewati batas kemampuan kawasan dalam menerima tekanan dari aktivitas manusia.
Jatna mencontohkan pengelolaan wisata gorila gunung di Afrika sebagai salah satu model bahwa konservasi dan pariwisata dapat berjalan beriringan.
Populasi gorila gunung yang terbatas tidak otomatis membuat aktivitas wisata harus dihentikan. Sebaliknya, kegiatan wisata dikelola secara ketat melalui pembatasan jumlah pengunjung dan biaya kunjungan yang kemudian dapat mendukung kegiatan konservasi.
“Gorila gunung itu hanya sekitar 600 sampai 1.000 ekor. Sekarang, gorilla tourism dikelola menjadi ecotourism dengan sangat hati-hati dan mahal,” ujarnya.
Menurut Jatna, pembatasan tersebut justru menjadi instrumen untuk menjaga satwa sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi konservasi.
“Pengunjung dibatasi, dan uang dari situ digunakan untuk memperbaiki gorila serta habitatnya. Return on investment-nya jelas. Jadi sebenarnya hal itu bisa dilakukan,” katanya.
Dalam konteks Taman Nasional Gunung Ciremai, Jatna melihat peluang pengembangan ekowisata yang cukup besar apabila dilakukan secara terencana dan berbasis data.
Ia bahkan menyebut Ciremai sebagai salah satu kawasan taman nasional di Jawa yang memiliki perkembangan pemulihan kawasan cukup baik berdasarkan pengamatannya menggunakan teknologi Geographic Information System (GIS).
“Saya pernah riset taman nasional terbaik di Jawa yang recovery-nya bagus, itu Ciremai. Ibu bilang paling rusak, menurut saya justru paling bagus,” kata Jatna.
Ia menjelaskan, penelitian tersebut dilakukan dengan memanfaatkan GIS untuk melihat perubahan kawasan dari era 1990-an hingga sekitar 2010.
“Saya pakai GIS untuk melihat perkembangannya dari tahun 90-an hingga 2010,” ujarnya.
Meski memiliki potensi pemulihan yang baik, Jatna menilai tantangan berikutnya adalah bagaimana mengembangkan pola wisata yang tidak membuat pengunjung terkonsentrasi di satu lokasi.
Menurut Jatna, salah satu kunci pengelolaan ekowisata adalah menciptakan banyak pilihan destinasi dan jalur wisata sehingga tekanan terhadap lingkungan dapat dibagi.
Ia mencontohkan pengelolaan kawasan Gunung Gede Pangrango yang menurutnya dapat menjadi pembelajaran.
“Harusnya ada lebih dari 20 destinasi yang kita buat sehingga orang memecah rute dan tidak menumpuk di satu tempat,” katanya.
Setiap destinasi, lanjut Jatna, juga harus memiliki kapasitas pengunjung yang dihitung berdasarkan daya dukung kawasan.
“Dilihat destinasinya, berapa orang kapasitasnya supaya tidak mengganggu. Jadi semuanya itu pakai plan secara scientific,” ujarnya.
Konsep tersebut dinilai relevan diterapkan di TNGC, terutama ketika aktivitas pendakian dan kunjungan wisata alam terus berkembang.
Jatna juga menyinggung pengelolaan Gunung Kinabalu di Malaysia serta Jiuzhaigou di China. Kedua kawasan tersebut, menurutnya, menunjukkan bagaimana aktivitas wisata dapat dikendalikan melalui kuota, pengaturan musim, fasilitas yang memadai serta dukungan penelitian.
“Di Gunung Kinabalu, tertata dengan baik, fasilitasnya jelas, narasinya bagus, sampai ada kuota. Manusia sekian tidak boleh lagi,” katanya.
Sementara di Jiuzhaigou, pengelolaan wisata juga mempertimbangkan musim serta hasil penelitian mengenai kondisi lingkungan.
“Ada riset yang men-support sehingga saat membuat ecotourism itu betul-betul well-planned,” ujar Jatna.
Selain persoalan kapasitas pengunjung, Jatna menilai aspek pembiayaan menjadi bagian penting dalam keberlanjutan ekowisata.
Ia mempertanyakan ke mana aliran pendapatan yang dihasilkan dari aktivitas wisata alam. Menurutnya, penerimaan dari kawasan konservasi seharusnya memberikan manfaat langsung bagi pemeliharaan kawasan dan perlindungan satwa.
“Uangnya lari ke mana? Jangan sampai sekadar masuk ke kas negara, karena harus balik lagi ke taman nasional,” tegasnya.
Karena itu, Jatna mendorong keterlibatan sektor swasta dalam pengembangan ekowisata dengan mekanisme yang memastikan adanya kontribusi kembali terhadap kawasan konservasi.
“Itulah perlunya peran private sector yang wajib mengembalikan dana ke kawasan tersebut,” katanya.
Jatna menegaskan, pengembangan ekowisata di Gunung Ciremai tidak harus dipertentangkan dengan agenda konservasi.
Menurut dia, yang paling penting adalah memastikan seluruh keputusan pengelolaan dibuat berdasarkan data dan kajian ilmiah.
Mulai dari jumlah wisatawan, penyebaran destinasi, perilaku satwa, daya dukung ekologis hingga mekanisme pemanfaatan pendapatan wisata harus dirancang secara terukur.
Dengan pendekatan tersebut, ekowisata bukan hanya menjadi aktivitas rekreasi, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk memberikan nilai ekonomi sekaligus memperkuat pembiayaan konservasi TNGC.
Bagi Gunung Ciremai, tantangannya bukan memilih antara wisata atau konservasi, melainkan bagaimana merancang wisata yang justru ikut membiayai dan menjaga kelestarian kawasan.









