CIAYUMAJAKUNING.ID – Di tengah tumpukan barang sisa yang kerap dianggap tak bernilai, tangan Suhendra justru menemukan peluang. Potongan busa, kain, benang dan material sisa industri yang masih layak dan aman, satu per satu diolah menjadi mainan tradisional penuh warna.
Dari tangan terampil para perajin di Blok Tegalan, Desa Jamblang, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, limbah tersebut berubah menjadi mainan berbentuk ayam, barongsai hingga naga.
Bukan dengan mesin canggih, melainkan dengan keterampilan tangan yang diwariskan secara turun-temurun.
Aktivitas membuat mainan tradisional itu masih berlangsung hingga kini. Setiap hari, Suhendra bersama lima orang warga sekitar sibuk mengerjakan berbagai tahapan produksi di tengah ancaman semakin populernya mainan modern.
Bagi Suhendra, membuat mainan tradisional bukan hanya tentang bagaimana menghasilkan rupiah. Ada tradisi yang menurutnya harus tetap dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.
“Di sini memang sudah turun-temurun membuat mainan tradisional. Bahan-bahannya banyak memanfaatkan limbah industri,” ujar Suhendra, Kamis (3/9/2026).
Dari Potongan Busa Menjadi Ayam, Barongsai dan Naga
Proses membuat mainan tersebut dimulai dari bahan yang sederhana. Busa dipotong sesuai bentuk yang dibutuhkan, kemudian dipadukan dengan kain dan benang.
Setelah itu, bagian-bagian tersebut dijahit dan dirakit menggunakan lem. Tahapan berikutnya adalah memberikan warna hingga mainan memiliki bentuk yang menarik.
Tidak ada proses instan. Setiap potongan harus diukur dan disesuaikan dengan bagian lainnya. Ketelitian menjadi hal penting karena kesalahan kecil dapat memengaruhi bentuk akhir mainan.
“Semua masih dibuat secara konvensional. Jadi memang membutuhkan ketelitian dan kecepatan,” katanya.
Lima orang warga sekitar turut membantu Suhendra dalam proses tersebut. Mereka mengerjakan bagian-bagian produksi sesuai tahapan, mulai dari menyiapkan bahan hingga merakit mainan.
Untuk menghasilkan sekitar tiga kodi mainan, mereka membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu.
Dalam kurun waktu tersebut, bahan-bahan sisa melewati proses panjang, mulai pemotongan, penjahitan, perakitan hingga pewarnaan.
Hasil akhirnya pun cukup menarik. Bahan yang semula hanya berupa potongan busa dan kain berubah menjadi mainan dengan warna-warni yang membuat bentuk ayam, barongsai maupun naga terlihat lebih hidup.
Di situlah kreativitas para perajin bekerja. Mereka tidak sekadar memanfaatkan barang bekas, tetapi juga mengubahnya menjadi produk yang memiliki nilai jual.
Rp10 Ribu Per Mainan, Pesanan Datang dari Berbagai Daerah
Mainan tradisional buatan Suhendra dijual dengan harga sekitar Rp10.000 per buah.
Meski sederhana dan dibuat secara manual, peminatnya masih ada. Pesanan bahkan tidak hanya datang dari wilayah Cirebon.
Produk tersebut telah dipasarkan ke sejumlah daerah di Indonesia. Permintaan datang dari berbagai kota di luar Cirebon, bahkan menjangkau wilayah di luar Pulau Jawa.
Kondisi tersebut menjadi bukti bahwa mainan tradisional belum sepenuhnya kehilangan tempat di tengah gempuran produk modern.
Harga yang relatif terjangkau menjadi salah satu daya tarik. Di sisi lain, bentuk dan proses pembuatannya yang masih tradisional memberikan karakter tersendiri pada produk tersebut.
Bagi para perajin, setiap mainan yang selesai dibuat bukan hanya menghasilkan pendapatan. Produk tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa keterampilan tradisional masih dapat memiliki nilai ekonomi.
Bertahan di Tengah Gempuran Mainan Modern
Namun, mempertahankan mainan tradisional bukan perkara mudah.
Perkembangan zaman membuat anak-anak memiliki semakin banyak pilihan permainan. Mainan elektronik, permainan digital dan berbagai produk modern yang diproduksi secara massal menawarkan bentuk serta fitur yang semakin beragam.
Para perajin tradisional pun dituntut untuk beradaptasi.
Suhendra memahami perubahan tersebut. Ia tidak ingin sekadar bertahan dengan cara lama, tetapi berusaha membuat produknya tetap menarik tanpa menghilangkan karakter tradisionalnya.
Bentuk dan tampilan terus diperhatikan agar mainan yang dibuat tetap mampu menarik perhatian, terutama di tengah banyaknya pilihan mainan modern.
Baginya, mengikuti perkembangan zaman bukan berarti harus meninggalkan tradisi.
Justru kreativitas menjadi jalan agar warisan keterampilan tersebut dapat terus bertahan dan dikenal oleh generasi berikutnya.
“Harapannya mainan tradisional ini tetap bertahan dan tidak kalah dengan mainan modern. Kami akan terus mencoba membuatnya menarik, tetapi nilai tradisionalnya tetap dipertahankan,” tuturnya.
Ketika Limbah Menjadi Jalan untuk Menjaga Tradisi
Apa yang dilakukan Suhendra di Blok Tegalan menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana kreativitas mampu memberikan kehidupan kedua bagi barang yang dianggap tak berguna.
Potongan busa dan kain yang sebelumnya hanya menjadi sisa industri, diubah menjadi mainan yang bernilai ekonomi.
Lebih dari itu, proses tersebut juga membuka ruang bagi warga sekitar untuk mendapatkan penghasilan.
Di tangan para perajin, limbah tidak berhenti sebagai barang buangan. Ia berubah menjadi karya, kemudian menjadi rupiah.
Dan yang tak kalah penting, di balik setiap mainan yang dihasilkan tersimpan keterampilan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Suhendra memilih untuk tidak membiarkan tradisi itu berhenti.
Ia terus membuat, berkreasi dan beradaptasi. Sebab baginya, mempertahankan mainan tradisional bukan sekadar menjaga sebuah produk agar tetap laku dijual, tetapi juga menjaga cerita dan keterampilan masyarakat Blok Tegalan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.









