CIAYUMAJAKUNING.ID – Kemarau panjang yang melanda wilayah Jawa Barat belum usai. Meskipun hujan diprediksi segera akan datang, menandai dimulainya musim tanam penghujan.
Berdasarkan keterangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Barat, saat ini telah memasuki fase peralihan musim pada dasarian kedua bulan Oktober 2026.
Meski belum seluruh kawasan diguyur hujan, wilayah Jawa Barat diperkirakan mulai memasuki musim penghujan pada pekan ketiga Oktober 2026, yang bergerak dari area selatan menuju wilayah tengah hingga utara.
Salah satu petani asal Kabupaten Cirebon, Suwandi mengatakan sudah hampir lima bulan terakhir ia memilih menidurkan sementara lahan pertaniannya akibat kemarau ekstrem berkepanjangan.
“Buat sekarang ya lahan saya di diemin dulu aja, mau tanam juga enggak ada airnya,” bebernya.
Ia mengaku jika baru tahun memilih tidak melakukan proses menanam seusai masa panen sejak awal tahun karena cuaca panas ekstrem dan mengeringnya air diirigasi yang mengairi lahan miliknya.
“Baru tahun ini enggak nanam, kalo tahun lalu ya masih bisa tanam sebanyak dua kali setahun karena air masih ada. Beda sama tahun ini yang benar-benar kering buat lahan punya saya seluas 1,5 hektare,” ujarnya.
Tidak hanya itu, ia juga berharap bilamana musim penghujan sudah mulai turun. Agar ketersediaan pupuk tetap ada dan mudah didapatkan oleh para petani.
“Saya juga berharap pas musim hujan ketersediaan pupuk juga gampang didapat supaya enggak ganggu proses masa tanam nantinya,” bebernya.
Menyikapi masa transisi ini, PT Pupuk Kujang Cikampek terus memastikan operasional produksi dan ketersediaan stok pupuk tetap berjalan dalam kapasitas optimal. Meskipun banyak petani yang terpaksa menunda masa tanam akibat kemarau panjang, Pupuk Kujang tidak mengendorkan laju produksinya.
Pabrik terus berproduksi secara konsisten guna menjaga daya tampung gudang tetap siaga dan melimpah.
“Langkah ini diambil demi menjamin ketersediaan pupuk saat para petani mulai memasuki masa tanam, sekaligus mendukung penguatan cadangan pangan strategis nasional,” kata VP Komunikasi Korporat Pupuk Kujang, Idho Pramana, Senin (19/10/2026).
Pihaknya juga memprediksi dimulainya musim hujan di berbagai wilayah Jabar tersebut bisa jadi momentum bagi petani untuk memulai masa tanam agar meningkatkan stok pangan nasional.
“Jadi para petani tak perlu khawatir, bisa segera menebus di kios resmi sesuai ketentuan yang berlaku,” tambahnya.
Untuk mendukung misi tersebut, saat ini Pupuk Kujang terus menjaga kestabilan stok pupuk bersubsidi maupun pupuk non subsidi.
Adapun di Jawa Barat, stok pupuk bersubsidi cenderung stabil untuk persiapan musim tanam penghujan yang diperkirakan terjadi sebentar lagi.
Berdasarkan pendataan hingga 15 Oktober 2026, stok pupuk bersubsidi di Jawa Barat, tercatat mencapai 98.011,8 Ton, terdiri dari Urea sebanyak 69.212,7 Ton, dan NPK sebanyak 28.799 Ton. Adapun di Cirebon, stok pupuk urea bersubsidi mencapai 8.885,7 Ton.
Idho mengatakan, masa kemarau panjang yang diwarnai tantangan fenomena El Nino memang menjadi ujian berat bagi para petani. Namun, momentum ini dimanfaatkan Pupuk Kujang untuk menguji ketahanan jaringan logistik serta memastikan keandalan rantai pasok tetap dalam kondisi prima.
“Pupuk Kujang berkomitmen penuh untuk mendampingi petani dan memastikan para petani tidak menghadapi tantangan kemarau ini sendirian,” katanya.








