CIAYUMAJAKUNING.ID: Lukisan kaca bukan sekadar hiasan dinding, melainkan cerminan identitas, jejak spiritual, dan mahakarya akulturasi budaya masyarakat Cirebon. Namun, di tengah gempuran modernisasi, warisan adiluhung ini menghadapi tantangan besar.
Tiga tokoh dari latar belakang berbeda akademisi, seniman, dan penggiat kebijakan menyoroti urgensi pelestarian lukisan kaca Cirebon dan jejak pengabdian sang maestro, Bapak Rastika.
Dari kacamata akademis Universitas Islam Bunga Bangsa (UIBB) Cirebon Budiana menegaskan bahwa lukisan kaca Cirebon memiliki karakteristik eksklusif yang tidak ditemukan di daerah lain. Oleh karena itu, ia mendorong agar karya seni ini segera dikukuhkan sebagai Kekayaan Intelektual (KI) Kabupaten Cirebon.
Budiana memaparkan dimensi historis dan spiritual yang kental pada kesenian ini.
“Di masa lampau, para pelukis kaca di Cirebon adalah kalangan penganut tasawuf. Kegiatan melukis dilakukan beriringan dengan zikir dan perenungan,” ungkapnya, Jumat, (17/4/2026) di rumah makan ayam Umbaran Cirebon.
Meski ada perdebatan mengenai awal mula masuknya lukisan kaca (antara abad ke-14 atau ke-19), kesenian ini diketahui mencapai masa keemasannya pada periode 1880 hingga 1950. Pada masa itu, lukisan kaca menjadi simbol prestise yang menghiasi keraton dan kesultanan.
Seiring waktu, corak Hindu-Buddha yang awalnya mendominasi bertransformasi menjadi corak Islam, melahirkan seni kaligrafi piktograf (bercirikan antropomorfisme) yang sarat akan nilai tasawuf. Sayangnya, pasca-kemerdekaan, gejolak politik dan ekonomi membuat kualitas dan popularitasnya menurun, menggeser orientasi pelukis dari makna spiritual menjadi sekadar komoditas komersial.
Sementara itu, Alif Arief Rivai, M.Pd., seniman pelukis kaca dan penggiat budaya Cirebon, menyoroti dari sisi historis akulturasi dan teknik. Ia menjelaskan bahwa lukisan kaca awalnya dibawa oleh bangsa Eropa dan Cina melalui pesisir Nusantara.
“Kesenian ini kemudian menyerap kondisi sosial dan kultur masyarakat setempat. Dari Cina yang identik dengan lukisan alam dan figur dewi, di Cirebon lukisan kaca berevolusi memunculkan identitas lokal,” jelas Alif.
Dalam perkembangannya, nama Bapak Rastika muncul sebagai sosok maestro yang tak tergantikan. Rastika dikenal setia mempertahankan teknik reverse glass painting (melukis dari bagian belakang kaca) sebuah metode yang mengharuskan pelukisnya bekerja secara terbalik.
Karya Bapak Rastika memiliki karakter yang sangat kuat, di antaranya warna cerah dan kontras dengan detail ornamen yang sangat halus. Motif ikonik Cirebon, seperti Mega Mendung (simbol kesejukan hati dan kebijaksanaan), kaligrafi Islam, wayang, flora-fauna, hingga simbol Keraton.
Sebagai maestro, Rastika tidak hanya melukis, tetapi juga mewariskan ilmunya lewat workshop dan pendampingan perajin muda agar lukisan kaca tetap bernapas di era modern.
Ketua Yayasan Advokasi Dan Studi Kebijakan Nusantara (Katanusa), Sauki M.A., memberikan pandangan strategis mengenai pelestarian lukisan kaca. Ia menekankan betapa rumitnya teknik reverse painting.
“Pelukis harus menggambar detail paling depan terlebih dahulu, lalu mewarnai, dan terakhir membuat latar belakang. Teknik ini menuntut tingkat ketelitian, kesabaran, dan daya imajinasi yang luar biasa sejak tarikan kuas pertama,” terang Sauki.
Menurut Sauki, lukisan kaca Cirebon adalah rahim dari pertemuan budaya Jawa, Sunda, Tionghoa, Arab, dan Eropa. Mahakarya ini tidak hanya berfungsi sebagai estetika visual, tetapi juga media pendidikan dan spiritual.
Ia memberikan apresiasi tertinggi kepada Bapak Rastika yang konsisten berkarya selama puluhan tahun, menahan arus modernisasi dan menurunnya minat generasi muda. Katanusa mendorong adanya langkah konkret berupa pendokumentasian komprehensif.
“Perjalanan hidup, filosofi, dan teknik Bapak Rastika memiliki nilai strategis. Ini harus didokumentasikan melalui penelitian, buku, arsip digital, hingga film dokumenter. Tujuannya agar generasi mendatang tidak kehilangan akar identitas budaya Cirebon dan kekayaan budaya Indonesia,” pungkas Sauki.









